Tartan Army Invasi Miami: Cinta Skotlandia di Tengah Gemuruh Baseball
Baca dalam 60 detik
- Suporter Skotlandia memadati stadion baseball Miami Marlins, menciptakan atmosfer karnaval dengan nyanyian dan tradisi khas.
- Billy Gilmour, gelandang Napoli yang cedera, menjadi bintang dengan lemparan pertama seremonial disambut gegap gempita.
- Skotlandia akan menghadapi Brasil di laga penentu Grup C, menentukan apakah pesta ini berlanjut ke babak berikutnya.

Miami, Florida—Cinta sering ditemukan di tempat tak terduga. Di lorong lantai tiga LoanDepot Park, dekat gerai ayam goreng, seorang wanita memegang papan bertuliskan "Looking for a Scot" dengan bendera Skotlandia dan Kuba. Dalam sekejap, seorang anggota Tartan Army—sebutan suporter timnas Skotlandia—menyambarnya dengan pelukan hangat. Momen itu menjadi simbol romansa antara ribuan pendatang Skotlandia dan kota Miami yang menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Kedatangan Tartan Army ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026 telah menciptakan fenomena budaya. Setelah sebelumnya menguasai Fenway Park di Boston, kali ini giliran LoanDepot Park, markas Miami Marlins, yang menjadi panggung pesta. Dengan total 20.008 penonton—terbanyak untuk pertandingan Senin malam di stadion itu sejak 2017—suasana berubah menjadi karnaval Skotlandia. Di luar, musisi Nick Morgan memainkan lagu kebangsaan tak resmi "No Scotland No Party" di atas panggung, sementara ribuan orang bernyanyi dan menari di bawah terik matahari Florida.
Di dalam stadion ber-AC, perhatian tertuju pada Billy Gilmour. Gelandang Napoli yang cedera itu muncul dengan penyangga lutut dan kaus Marlins, lalu berjalan tertatih menuju gundukan untuk melakukan lemparan pertama seremonial. Sorak-sorai menggema seperti menyambut gol kemenangan. Gilmour tersenyum lebar, melambai ke arah kerumunan, sebelum kembali ke sisi lapangan. Momen ini menunjukkan betapa besarnya antusiasme suporter terhadap tim nasional mereka, bahkan di tengah keterbatasan fisik sang pemain.
Kritikus mungkin melihat ini sebagai strategi komersial untuk memanfaatkan kerumunan yang haus hiburan. Namun, bagi para suporter, pengalaman ini terasa otentik. Dari menu tartan di kios makanan—seperti hot dog mince and tattie yang mendapat nilai 9 dari 10 dari seorang penggemar Dundee United—hingga penampilan St Andrews Pipe Band of Miami yang meredam sorak sorai kemenangan Marlins, setiap elemen dirancang untuk menciptakan kenangan seumur hidup. DJ CP, yang bertugas memutar lagu dengan bendera Skotlandia melingkar di bahunya, mengaku antusias memainkan "Bits and Pieces" dan lagu-lagu Beatles untuk memacu semangat.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada euforia suporter Garuda saat berlaga di luar negeri. Meskipun skala dan budaya pendukung berbeda, semangat kebersamaan dan kebanggaan nasional tetap sama. Tartan Army menunjukkan bagaimana sepak bola bisa menjadi jembatan antarbudaya, mengubah pertandingan bisbol biasa menjadi pesta global. Di era di mana sepak bola semakin mendunia, momen seperti ini menjadi bukti bahwa olahraga mampu menyatukan orang melampaui batas geografis.
Pertandingan berakhir dengan kekalahan Marlins dari Texas Rangers, namun Skotlandia belum meraih kemenangan di Piala Dunia ini. Ironisnya, Tartan Army justru lebih sering melihat kemenangan Rangers (tim bisbol) daripada tim nasional mereka sendiri. Namun, masih ada harapan. Laga penentu Grup C melawan Brasil pada Rabu akan menjadi ujian sesungguhnya. Akankah romansa ini berlanjut ke babak berikutnya, atau berakhir seperti lemparan pertama Gilmour yang hanya meninggalkan senyum? Jawabannya akan segera terungkap di lapangan hijau.



