Makassar Raih Penghargaan Global Berkat Program Sanitasi Berbasis Komunitas
Baca dalam 60 detik
- Program RISE yang mengatasi sanitasi permukiman kumuh di Makassar masuk lima besar WRI Ross Center Prize for Cities 2025-2026.
- Penghargaan ini menegaskan efektivitas kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan sehat.
- Pemkot Makassar berencana mereplikasi program ke wilayah lain dengan dukungan anggaran daerah.

Kota Makassar berhasil mencuri perhatian dunia setelah program perbaikan permukiman kumuh dan sanitasi berbasis komunitas, Revitalising Informal Settlements and their Environments (RISE), meraih penghargaan WRI Ross Center Prize for Cities 2025-2026 di New York. Prestasi ini menempatkan Makassar sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang masuk dalam jajaran lima besar ajang bergengsi tersebut, sekaligus membuktikan bahwa pendekatan partisipatif mampu menjawab tantangan perkotaan global.
Penghargaan diterima secara simbolis oleh Konsulat Jenderal RI di New York, kemudian diserahkan secara resmi dalam Mayor's Exclusive Roundtable Meeting yang digelar di Baruga Anging Mammiri, Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Senin (22/6). Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Monash University sebagai mitra riset utama. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pengakuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan hasil kerja keras selama hampir satu dekade.
"Penghargaan ini lahir dari dedikasi, bukan dari ambisi meraih piala. Kami bekerja sungguh-sungguh agar program ini berdampak langsung pada keseharian warga," ujar Munafri dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa RISE telah berhasil meningkatkan kualitas sanitasi, lingkungan permukiman, dan kesehatan masyarakat melalui pendekatan yang melibatkan komunitas sejak perencanaan hingga pemeliharaan.
Direktur RISE, Profesor Diego Ramรญrez-Lovering, menilai keberhasilan Makassar tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor. "Makassar menunjukkan bahwa sinergi antara inovasi teknis, komitmen pemerintah, dan partisipasi masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tangguh," kata Diego. Ia menambahkan bahwa model ini dapat direplikasi di kota-kota lain yang menghadapi masalah serupa, terutama di negara berkembang.
Bagi Indonesia, capaian ini menjadi bukti bahwa program berbasis komunitas dapat bersaing di tingkat global. Di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, pendekatan RISE menawarkan solusi konkret yang tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga memperkuat kohesi sosial. Ke depan, Pemkot Makassar berkomitmen untuk memperluas jangkauan program ke kawasan-kawasan yang masih membutuhkan perbaikan sanitasi dan lingkungan sehat.
Munafri menginstruksikan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk segera menyusun peta jalan replikasi RISE. "Masih banyak wilayah yang memerlukan intervensi serupa. Kami akan mengalokasikan anggaran maksimal agar program ini berkelanjutan dan bisa diduplikasi," tegasnya. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target sanitasi layak dan permukiman sehat di Makassar, sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Dengan pengakuan global ini, pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana pemerintah daerah lain di Indonesia akan mengadopsi model RISE? Jika komitmen politik dan pendanaan dapat dijamin, bukan tidak mungkin pendekatan partisipatif seperti ini menjadi standar baru dalam penanganan permukiman kumuh di tanah air.



