Okinawa Peringati 81 Tahun Pertempuran Perang Dunia II di Tengah Ketegangan Militer
Baca dalam 60 detik
- Okinawa memperingati 81 tahun berakhirnya pertempuran sengit Perang Dunia II yang menewaskan lebih dari 200.000 jiwa, dengan pesan perdamaian dari Gubernur Denny Tamaki.
- Beban pangkalan militer AS masih menjadi isu sentral, di mana 70% fasilitas militer AS di Jepang terkonsentrasi di Okinawa, memicu kekhawatiran warga akan keterlibatan dalam konflik.
- Upaya pelestarian memori perang terhambat oleh menurunnya jumlah penyintas, dengan 60% pelajar SMA setempat tidak memiliki anggota keluarga yang bisa menceritakan pengalaman pertempuran.

Okinawa, Jepang, menggelar upacara peringatan 81 tahun berakhirnya pertempuran darat Perang Dunia II yang menewaskan lebih dari 200.000 jiwa, di tengah meningkatnya ketegangan regional dan pembangunan pertahanan Jepang di kawasan selatan. Peringatan tahun ini menjadi pengingat akan trauma masa lalu sekaligus sorotan terhadap beban berkelanjutan yang ditanggung prefektur tersebut sebagai tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat.
Gubernur Okinawa Denny Tamaki, dalam deklarasi perdamaian yang dibacakan pada upacara di Taman Memorial Perdamaian Itoman, menegaskan komitmen untuk tidak mengulangi kebodohan perang. "Kami mengingat penderitaan perang, dan kami berjanji untuk tidak pernah mengulangi kebodohan itu," ujarnya. Tamaki juga menekankan bahwa Okinawa, yang telah merasakan langsung luka perang, dapat berkontribusi bagi perdamaian dunia. Ia menyerukan dialog antara pemerintah Jepang, AS, dan prefektur untuk menyelesaikan sengketa pemindahan Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma dari kawasan padat penduduk Ginowan ke daerah pesisir Henoko yang lebih jarang penduduknya. Warga setempat mayoritas menginginkan pangkalan dipindahkan keluar dari Okinawa.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang turut hadir dalam upacara tersebut mengakui beban berat Okinawa dalam menampung sebagian besar pangkalan militer AS di Jepang. Ia berjanji akan terus berupaya merampingkan dan mengurangi fasilitas militer AS, serta mempromosikan penggunaan lahan bekas pangkalan yang telah dikembalikan. Namun, pernyataan itu belum mampu meredam kekhawatiran warga yang merasa daerah mereka kembali terancam terseret dalam konflik, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Taiwan dan Kepulauan Senkaku yang diklaim China.
Kekhawatiran akan terulangnya tragedi serupa semakin terasa seiring Jepang memperkuat kemampuan pertahanannya di kawasan selatan. Aktivitas militer China yang kian agresif di laut, ditambah ketegangan di Selat Taiwan, membuat warga Okinawa cemas bahwa pulau mereka bisa kembali menjadi medan perang. Tamaki, dalam pidatonya, juga menyoroti kekhawatiran global akan proliferasi nuklir. "Mengingat kenyataan bahwa perang yang jauh sekalipun berdampak pada kehidupan kita sehari-hari, menentang semua perang dan mewujudkan perdamaian bukanlah cita-cita, melainkan tanggung jawab," tegasnya.
Di sisi lain, upaya melestarikan memori pertempuran menghadapi tantangan serius karena jumlah penyintas yang terus berkurang. Menurut peneliti setempat, sekitar 60% pelajar SMA di Okinawa tidak memiliki anggota keluarga yang bisa menceritakan langsung pengalaman perang. Hal ini membuat generasi muda semakin sulit memahami dampak nyata konflik. Upacara peringatan tahun ini juga diisi dengan pembacaan puisi perdamaian oleh seorang siswa SMP setempat dan hening cipta selama satu menit.
Pertempuran Okinawa yang berlangsung dari April hingga Juni 1945 merupakan salah satu pertempuran paling berdarah di teater Pasifik. Setelah pasukan AS mendarat pada April 1945, tentara Jepang mundur ke bagian selatan pulau pada 22 Mei dan bercampur dengan penduduk sipil, menyebabkan banyak korban jiwa di kalangan non-kombatan. Pendudukan pangkalan udara Jepang oleh AS saat itu menjadi cikal bakal keberadaan pangkalan militer AS di Okinawa hingga kini. Dengan memori yang mulai pudar dan ketegangan yang kembali meninggi, pertanyaan mendasar masih menggantung: akankah Okinawa benar-benar terbebas dari bayang-bayang perang?



