Iran Tegaskan Kuasai Selat Hormuz Usai Perundingan dengan AS
Baca dalam 60 detik
- Tehran menyatakan Selat Hormuz akan berada di bawah administrasi Iran sesuai hukum internasional, menandai perubahan status pascaperang.
- Kesepakatan dengan AS mencakup jalur komunikasi, keringanan sanksi minyak, dan pembekuan aset Iran sebagai imbalan akses inspektur nuklir.
- Selat yang sempat ditutup kembali akibat serangan Israel di Lebanon kini kembali dibuka dengan lalu lintas lebih lancar.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia, akan sepenuhnya berada di bawah kendali Teheran setelah perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, Selasa (23/6), menandai babak baru dalam konflik yang telah melumpuhkan kawasan Timur Tengah.
Ghalibaf, yang baru kembali dari perundingan di resor mewah Burgenstock, mengklaim bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang. "Selat ini akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional," ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah IRNA. Ia menambahkan bahwa perundingan tersebut menghasilkan "capaian baik", terutama terkait status selat, situasi Lebanon, pembebasan dana beku, dan keringanan sanksi minyak.
Perundingan putaran pertama antara Iran dan AS di Swiss pada Senin (22/6) menghasilkan kesepakatan untuk membuka jalur komunikasi guna menjaga kelancaran jalur pelayaran vital tersebut. Mediator dari Qatar dan Pakistan mengonfirmasi bahwa kedua pihak sepakat membangun saluran komunikasi untuk "menghindari insiden dan kesalahpahaman demi keselamatan kapal komersial" yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Washington memberikan keringanan sanksi kepada Teheran dan mencairkan sebagian aset Iran yang dibekukan. Langkah ini diambil setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan bahwa Iran bersedia menerima kembali inspektur nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, Ghalibaf mengingatkan bahwa "kami masih di awal pekerjaan ini dan harus terus berupaya."
Bagi Indonesia, dinamika di Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga BBM di dalam negeri. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah kerap mempengaruhi sentimen pasar global, termasuk nilai tukar rupiah dan arus investasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Lalu lintas maritim di Selat Hormuz pada Senin tercatat lebih lancar dibandingkan sebelum kesepakatan AS-Iran, menurut perusahaan pelacak. Meski demikian, pernyataan Ghalibaf yang menegaskan kendali penuh Iran atas selat tersebut menimbulkan pertanyaan baru: akankah stabilitas jalur ini bertahan lama, atau justru menjadi sumber ketegangan baru di kawasan?



