Panen Perdana PM-AAS di Sidrap Tembus 11,2 Ton per Hektare, Melampaui Target Kementan
Baca dalam 60 detik
- Program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) mencatat hasil panen perdana di Sidrap sebesar 11,2 ton gabah per hektare, lebih tinggi dari capaian di Brebes.
- Keberhasilan ini menegaskan efektivitas integrasi teknologi budidaya dalam meningkatkan produktivitas padi nasional secara signifikan.
- Kementan berencana memperluas penerapan PM-AAS hingga satu juta hektare pada tahun ini, berpotensi mengerek pendapatan petani dan ketahanan pangan.

Kementerian Pertanian mencatat panen perdana program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, menghasilkan 11,2 ton gabah per hektare, melampaui target yang ditetapkan. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa modernisasi pertanian mampu mendongkrak produktivitas padi nasional secara signifikan.
Hasil ubinan di lahan seluas satu hektare yang ditanam pada 30 April 2026 dengan varietas Inpari 48 menunjukkan angka 7,7 kilogram, setara 11,2 ton per hektare. Angka ini lebih tinggi dibandingkan hasil ubinan di Brebes, Jawa Tengah, yang mencapai 10,43 ton GKP per hektare. Keberhasilan di dua wilayah dengan agroekosistem berbeda memperkuat konsistensi efektivitas PM-AAS.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry, menegaskan bahwa penerapan PM-AAS kembali membuktikan keberhasilannya dalam meningkatkan produktivitas padi. Menurutnya, pendekatan ini mengintegrasikan seluruh komponen teknologi dalam satu sistem produksi yang saling mendukung, mulai dari varietas unggul spesifik lokasi, mekanisasi, pengelolaan hara dan air, hingga pendampingan budidaya intensif.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyambut baik hasil panen yang over target. Meski sempat terdampak El Nino, dari sekitar 52 ribu hektare lahan pertanian, hanya sekitar seribu hektare yang terganggu, sementara 50 ribu hektare lainnya telah memasuki masa panen. Sebagai apresiasi, pemerintah kabupaten menyiapkan hadiah umrah bagi petani dengan hasil tertinggi, serta dukungan pengembangan PM-AAS seluas 10 ribu hektare dengan bantuan benih dan pupuk.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa PM-AAS merupakan strategi utama dalam mempercepat peningkatan produksi pangan. Program ini dikembangkan melalui penelitian selama hampir dua tahun, mengintegrasikan varietas unggul, mekanisasi, pemupukan berimbang, serta pengelolaan air. Keberhasilan di Sidrap diharapkan menjadi model bagi daerah lain.
Bagi Indonesia, capaian ini memiliki implikasi luas. Dengan target perluasan hingga satu juta hektare, PM-AAS berpotensi meningkatkan produksi padi nasional secara signifikan, yang pada gilirannya dapat menekan impor beras dan memperkuat ketahanan pangan. Namun, tantangan seperti keterbatasan lahan, perubahan iklim, dan adopsi teknologi oleh petani kecil tetap menjadi pekerjaan rumah. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu memperluas program ini secara merata tanpa meninggalkan petani tradisional?



