Topan Dolphin Melumpuhkan Okinawa: Bandara Naha Tutup, Ratusan Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Topan Dolphin memaksa penutupan Bandara Naha dan pembatalan seluruh penerbangan di Okinawa, Jepang, Jumat (7/8).
- Kecepatan angin mencapai 144 km/jam, tiga lansia terluka, dan 240 warga mengungsi ke pusat evakuasi.
- Badai diprediksi melemah akhir pekan ini, namun berpotensi menghambat pemulihan pascagempa di Kyushu.

Topan Dolphin menerjang kepulauan selatan Jepang pada Jumat (7/8), memaksa otoritas menutup Bandara Naha di Okinawa dan membatalkan seluruh jadwal penerbangan domestik maupun internasional. Ratusan warga terpaksa mengungsi ke pusat evakuasi saat angin kencang dan hujan deras melanda kawasan tersebut.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang (JMA), pusat topan berada tepat di utara Pulau Okinawa dengan kecepatan angin maksimum mencapai 144 kilometer per jam pada Jumat sore. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya gelombang tinggi dan banjir, terutama di wilayah pesisir yang padat penduduk.
Otoritas prefektur Okinawa melaporkan tiga pria berusia 70-an mengalami luka ringan akibat terjangan angin. Dua di antaranya tersapu angin saat berada di luar ruangan, sementara satu lainnya jatuh dari bangku saat bersiap menghadapi badai. Kejadian ini menggarisbawahi bahaya laten yang mengintai warga yang nekat beraktivitas di luar rumah selama topan berlangsung.
Penutupan Bandara Naha berdampak signifikan terhadap mobilitas warga dan wisatawan. Seluruh penerbangan yang masuk dan keluar dari Okinawa dibatalkan, memutus akses udara ke salah satu destinasi wisata utama Jepang. Hingga Jumat siang, tercatat 240 orang telah berlindung di pusat evakuasi yang tersebar di seluruh prefektur, menurut keterangan resmi setempat.
Yang lebih memprihatinkan, Topan Dolphin diperkirakan akan menyentuh bagian selatan Pulau Kyushu, wilayah yang baru saja dilanda gempa bumi mematikan pekan lalu. Warga yang rumahnya rusak akibat gempa kini berjibaku memasang terpal biru di atap dan dinding untuk mencegah kerusakan lebih parah akibat air hujan. Kombinasi antara gempa dan topan ini menciptakan situasi kemanusiaan yang kompleks, di mana upaya pemulihan pascagempa terhambat oleh cuaca ekstrem.
Badan Meteorologi Jepang memprediksi angin kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi akan melanda wilayah Okinawa hingga Minggu (9/8). Warga diimbau untuk tetap tinggal di dalam ruangan dan menjauhi area rawan longsor atau banjir. Sementara itu, topan diperkirakan akan melemah saat mendekati pesisir timur China dan diperkirakan mencapai daratan pada Senin pagi (10/8).
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, yang frekuensinya meningkat akibat perubahan iklim. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia sendiri telah berulang kali menekankan perlunya sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan bencana, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap siklon tropis. Meskipun Indonesia jarang dilanda topan secara langsung, dampak tidak langsung seperti cuaca ekstrem dan gelombang tinggi kerap dirasakan di beberapa daerah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Jepang akan mempercepat pemulihan di Kyushu pascagempa dan topan sekaligus. Apakah sistem evakuasi dan penanganan darurat yang ada mampu beradaptasi dengan bencana beruntun seperti ini? Jawabannya akan menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang sama-sama berada di jalur cincin api dan rawan bencana alam.



