Pionir Cokelat Artisanal Singapura Tutup Gerai Setelah 20 Tahun, Bisnis Online Tetap Jalan
Baca dalam 60 detik
- Laurent Cafe & Chocolate Bar, pelopor cokelat artisan di Singapura, menutup gerai di Robertson Quay pada 12 Agustus setelah beroperasi sejak 2006.
- Pemilik Laurent Bernard menyebut beban finansial, turunnya pengunjung, dan naiknya sewa sebagai pemicu penutupan, meski ia enggan membeberkan angka kerugian.
- Merek Laurent Bernard Chocolatier tetap beroperasi secara daring, dengan fokus pada penjualan online dari dapur pusat di MacTaggart Road.

Setelah dua dekade menemani pencinta cokelat di Singapura, Laurent Cafe & Chocolate Bar di Robertson Quay resmi menutup gerainya pada 12 Agustus. Kabar ini mengejutkan banyak pelanggan setia yang telah menjadikan kafe tersebut sebagai bagian dari rutinitas mereka, terutama di kawasan riverside yang tenang itu.
Kafe yang didirikan oleh chef asal Prancis, Laurent Bernard, bersama istrinya Iveta pada 2006 ini dikenal sebagai salah satu perintis cokelat artisan di Singapura. Sebelum merek-merek lokal seperti Mr Bucket Chocolaterie dan Janice Wong Pure Imagination populer, Laurent Bernard Chocolatier sudah lebih dulu memanjakan lidah dengan bonbon cokelat buatan tangan, souffle cokelat, dan aneka kue yang dibuat segar di tempat. Kehadirannya sempat menjadi ikon kuliner di Robertson Quay, menarik baik warga lokal maupun turis.
Penutupan ini diumumkan pertama kali melalui akun Facebook resmi pada 6 Agustus, dengan rencana awal menutup di hari yang sama. Namun, kemudian diubah menjadi 12 Agustus tanpa alasan yang diungkapkan ke publik. Bernard, dalam wawancaranya dengan 8days.sg, menyebutkan bahwa keputusan ini diambil karena "beban finansial" yang semakin berat. Meski enggan merinci jumlah kerugian, ia mengakui bahwa menurunnya jumlah pengunjung di kawasan Robertson Quay serta kenaikan biaya sewa menjadi faktor utama yang mempercepat langkah ini.
Bagi Bernard, kerugian terbesar bukanlah soal uang. "Yang paling menyakitkan adalah kehilangan secara emosional," ujarnya. Ia mengaku terharu melihat empati besar dari pelanggan yang merasa kehilangan. "Kafe ini sangat berarti bagi banyak warga sekitar. Saya benar-benar hancur," tambahnya. Sentimen ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara usaha kecil dan komunitasnya, sebuah fenomena yang juga relevan di Indonesia, di mana kafe-kafe independen sering menjadi ruang ketiga bagi masyarakat urban.
Meski gerai fisiknya tutup, Laurent Bernard Chocolatier tidak sepenuhnya menghilang. Bernard memastikan bahwa mereknya akan terus berjalan melalui platform daring. Pelanggan masih bisa memesan kue, kotak cokelat, dan produk lainnya untuk diantar atau diambil sendiri dari dapur pusat di MacTaggart Road. Keputusan ini mencerminkan tren yang semakin umum di industri kuliner, di mana kehadiran digital menjadi penyelamat di tengah tekanan biaya operasional fisik. Bernard juga menegaskan bahwa ia belum berencana membuka kafe baru dalam waktu dekat, dan akan fokus mengembangkan bisnis online-nya.
Fenomena penutupan kafe ikonik seperti ini bukan hanya terjadi di Singapura. Di Indonesia, banyak kafe legendaris juga menghadapi tantangan serupa, terutama setelah pandemi dan perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke layanan pesan-antar. Namun, adaptasi ke model bisnis digital sering kali menjadi kunci kelangsungan usaha. Langkah Bernard untuk bertahan lewat kanal online bisa menjadi pelajaran berharga bagi pelaku usaha kuliner di Tanah Air yang ingin tetap relevan di tengah gempuran biaya sewa dan persaingan ketat.
Dalam unggahan perpisahannya, Bernard mengucapkan terima kasih kepada para pelanggan atas kenangan yang telah tercipta selama dua dekade terakhir. "Kami berharap waktu yang Anda habiskan di sini akan selalu dikenang," tulisnya. "Terima kasih, dan selamat tinggal." Kini, pertanyaannya adalah apakah model bisnis online yang dipilih Bernard mampu menggantikan kehangatan pengalaman menikmati cokelat langsung di kafe? Atau justru menjadi awal dari babak baru yang lebih adaptif bagi merek-merek artisan di Asia Tenggara?



