Perempuan di Bandung Buta Permanen Usai Disiksa, Pelaku Buron
Baca dalam 60 detik
- Yuvita Tri Rezeki (29) dirawat intensif di RSHS Bandung dengan luka permanen di kepala, mata buta, dan bibir hilang separuh akibat dugaan penyiksaan Taufik Hidayat (30) yang masih buron.
- Keluarga mengaku korban tinggal bersama pelaku sejak 2023 dan sempat mengirim pesan agar tidak dicari, sehingga dugaan penyiksaan berlangsung lama tanpa sepengetahuan mereka.
- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjamin biaya pengobatan korban, sementara polisi membentuk tim gabungan untuk memburu pelaku yang belum ditangkap.

Yuvita Tri Rezeki (29) menjadi korban kekerasan brutal hingga mengalami kebutaan permanen dan kehilangan sebagian bibir, setelah diduga disiksa oleh seorang pria bernama Taufik Hidayat (30) yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, itu menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, sementara polisi masih memburu pelaku yang belum diketahui keberadaannya.
Syahrul Ulum (26), adik korban, menuturkan bahwa kakaknya menderita luka parah di kepala, mata tidak bisa melihat, dan bibir tidak utuh. "Luka yang permanen, mata buta dan bibirnya tidak utuh. Rencananya mau operasi," ujarnya saat ditemui di rumah keluarga, Senin (22/6). Syahrul mengaku tidak mengetahui detail penyiksaan, namun ia menduga kakaknya telah lama menjadi korban kekerasan oleh Taufik sejak keduanya tinggal bersama pada 2023.
Selama dua tahun terakhir, Yuvita tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya. Keluarga sempat mencari melalui media sosial dan melaporkan sebagai orang hilang. Namun, tiba-tiba korban mengirim pesan kepada ayahnya meminta agar tidak dicari, mengaku baik-baik saja. "Jadi setahu keluarga, teteh berarti baik-baik aja selama ini," kata Syahrul menirukan pesan kakaknya dalam bahasa Sunda. Setelah sadar, Yuvita hanya meminta maaf kepada keluarga, tanpa banyak bercerita tentang apa yang dialaminya.
Kepolisian Daerah Jawa Barat melalui Kabid Humas Kombes Pol Hendra Rochmawan menyatakan bahwa tim gabungan telah dibentuk untuk mengejar Taufik. "Pelaku saat ini belum ditangkap. Kita baru membentuk tim gabungan ini," ujarnya. Penyidik belum bisa memeriksa korban karena kondisi komunikasinya belum pulih sepenuhnya. Meski demikian, polisi tetap melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengungkap kasus dugaan penyiksaan ini.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjenguk korban di RSHS Bandung dan mengaku tidak tega melihat kondisinya. "Jujur saja, lihatnya pun enggak berani, enggak tega lah," katanya. Dedi memastikan seluruh biaya pengobatan Yuvita ditanggung pemerintah provinsi hingga selesai, tanpa perlu menggunakan BPJS. Ia juga memberikan bantuan kepada keluarga korban. Langkah ini diharapkan meringankan beban keluarga yang tengah berduka.
Kasus ini menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, khususnya kekerasan dalam rumah tangga yang sering tidak terdeteksi karena korban enggan melapor atau diisolasi pelaku. Polda Jabar diharapkan segera menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik penyiksaan sadis ini. Pertanyaan yang tersisa: bagaimana bisa kekerasan berlangsung bertahun-tahun tanpa ada yang curiga, dan apa yang akan dilakukan aparat untuk mencegah kasus serupa terulang?



