SpaceX Raup Rp 100 Triliun dari Sewa Chip AI ke Startup Reflection
Baca dalam 60 detik
- Reflection AI menyewa kapasitas komputasi di pusat data Colossus 2 milik SpaceX dengan biaya Rp 2,4 triliun per bulan.
- Kesepakatan senilai total Rp 101 triliun ini memperkuat dominasi SpaceX di pasar penyewaan infrastruktur AI.
- Kontrak dapat diakhiri sepihak dengan pemberitahuan 90 hari setelah tiga bulan pertama, memberi fleksibilitas bagi kedua pihak.

SpaceX, perusahaan antariksa yang juga merambah bisnis komputasi awan, mengamankan kontrak senilai Rp 101 triliun (US$6,3 miliar) dari Reflection AI, startup kecerdasan buatan berbasis open-source yang didukung Nvidia. Kesepakatan ini menjadi sinyal baru bahwa persaingan infrastruktur AI global kian memanas, dengan pemain non-teknologi seperti SpaceX ikut mengambil porsi besar.
Berdasarkan laporan CNBC yang dikutip Reuters, Reflection AI akan membayar US$150 juta (sekitar Rp 2,4 triliun) per bulan mulai 1 Juli 2026 hingga 2029. Sebagai imbalan, startup tersebut mendapatkan akses langsung ke chip Nvidia GB300 di pusat data Colossus 2 milik SpaceX. Chip ini merupakan generasi terbaru prosesor AI yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model-model canggih.
Kesepakatan ini menambah deretan kemenangan komersial SpaceX di bidang komputasi. Sebelumnya, raksasa teknologi Google juga meneken kontrak senilai US$920 juta per bulan dengan SpaceX untuk periode yang hampir sama. Anthropic, startup AI pesaing Reflection, juga disebut telah menjalin kerja sama serupa. Langkah ini menunjukkan bahwa SpaceX tidak hanya bergantung pada bisnis roket dan satelit, tetapi juga serius membangun lini bisnis penyewaan daya komputasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Kebutuhan komputasi AI di dalam negeri terus meningkat seiring dengan adopsi teknologi oleh perusahaan rintisan, institusi riset, dan pemerintah. Namun, ketersediaan infrastruktur seperti pusat data dengan chip canggih masih terbatas. Kesepakatan antara SpaceX dan Reflection menunjukkan bahwa penyewaan kapasitas komputasi menjadi model bisnis yang menguntungkan, dan bisa menjadi peluang bagi investor atau perusahaan Indonesia untuk bermitra dengan penyedia global.
Reflection AI sendiri merupakan startup yang fokus pada pengembangan model AI open-source. Dalam unggahan di LinkedIn, perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu menyatakan bahwa tambahan daya komputasi akan memberi mereka ruang lebih besar untuk mendorong batas kemampuan model terbuka. Namun, mereka tidak merinci rencana pengembangan lebih lanjut. Sementara itu, saham SpaceX tercatat turun 10,6 persen pada hari pengumuman, meskipun analis menilai koreksi ini lebih disebabkan faktor pasar secara umum.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah model bisnis penyewaan infrastruktur AI seperti yang dijalankan SpaceX akan diadopsi oleh perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan biaya yang sangat besar, hanya pemodal kuat yang bisa bersaing. Namun, jika permintaan terus melonjak, bukan tidak mungkin akan muncul pemain lokal yang menawarkan layanan serupa dengan harga lebih terjangkau.



