Thailand Pacu Reformasi Struktural: Target Pertumbuhan Ekonomi 3% pada 2030
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Thailand meluncurkan peta jalan reformasi untuk menaikkan potensi pertumbuhan ekonomi tahunan dari 2,7% menjadi 3% dalam empat tahun ke depan.
- Strategi ini mencakup empat pilar utama: industrialisasi baru, perdagangan lokal, pengembangan SDM dan inovasi, serta efisiensi birokrasi.
- Kebijakan 'Reinvent Thailand' akan memprioritaskan tujuh sektor strategis yang menopang 66% pendapatan bisnis nasional.

Thailand resmi mengumumkan agenda reformasi struktural besar-besaran yang menargetkan peningkatan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang dari 2,7 persen menjadi 3 persen per tahun pada 2030. Langkah ini diumumkan langsung oleh Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas setelah memimpin rapat koordinasi antara sektor publik dan swasta di Bangkok.
Dalam pernyataannya, Ekniti menegaskan bahwa pemerintah Thailand akan mengubah mekanisme komite bersama yang selama ini hanya berfungsi sebagai forum konsultatif pasif menjadi mesin ekonomi eksekutif yang disiplin dan terarah. Transformasi ini menjadi kunci dalam menjalankan peta jalan baru yang ambisius, yang tidak hanya menyasar pertumbuhan, tetapi juga peningkatan daya saing global Thailand ke peringkat 20 besar dunia dalam empat tahun ke depan.
Target jangka panjangnya, Thailand ingin mencapai status negara berpendapatan tinggi dalam 12 tahun. Untuk mewujudkannya, pemerintah menyiapkan strategi yang dibagi ke dalam empat pilar utama: pembentukan basis industri baru, promosi perdagangan dan ekonomi lokal, pengembangan sumber daya manusia dan inovasi, serta peningkatan efisiensi sektor publik. Keempat pilar ini akan dijalankan secara sistematis dan terkoordinasi.
Salah satu keputusan penting dalam rapat tersebut adalah pengesahan kebijakan Reinvent Thailand, yang akan mengangkat tujuh industri strategis masa depan. Sektor-sektor tersebut meliputi pertanian dan pangan olahan, otomotif masa depan, elektronik pintar, medis dan kesehatan, pariwisata, ritel dan perdagangan, serta ekonomi kreatif. Menurut pernyataan resmi pemerintah, sektor-sektor ini mencakup lebih dari 273.000 perusahaan, mempekerjakan lebih dari 11,9 juta orang, dan menghasilkan sekitar 66 persen dari total pendapatan bisnis di seluruh negeri.
Bagi Indonesia, langkah Thailand ini menjadi sinyal persaingan investasi di kawasan ASEAN semakin ketat. Dengan target pertumbuhan 3 persen dan fokus pada industri bernilai tambah tinggi, Thailand berpotensi menarik lebih banyak investasi asing langsung, terutama di sektor elektronik, otomotif, dan pariwisata. Indonesia perlu mencermati strategi ini sebagai bahan evaluasi daya saing domestik, khususnya dalam hal kemudahan berusaha dan pengembangan sumber daya manusia.
Para analis menilai bahwa keberhasilan Thailand mencapai target tersebut sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan eksekusi di lapangan. Pertanyaan besarnya, apakah reformasi struktural ini cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan regional yang semakin sengit?



