Malaysia Seragamkan Harga Solar Rp 7.000 per Liter per Juli, Dongkrak Daya Saing Regional
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia akan menetapkan harga solar bersubsidi tunggal RM 2,10 per liter mulai Juli, turun drastis dari harga pasar di Semenanjung Malaysia saat ini RM 4,37.
- Kebijakan ini bertujuan menekan penyelundupan dan kebocoran subsidi yang merugikan negara, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di Sabah dan Sarawak.
- Langkah ini berpotensi mengubah peta persaingan harga energi di ASEAN, termasuk mempengaruhi pola perdagangan solar ilegal di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Pemerintah Malaysia memutuskan untuk menyamakan harga solar bersubsidi di seluruh negeri menjadi RM 2,10 per liter mulai Juli mendatang, sebuah langkah drastis yang memangkas harga di Semenanjung Malaysia hingga lebih dari separuh. Kebijakan ini sekaligus mengakhiri disparitas harga yang selama ini memicu penyelundupan dan kebocoran subsidi.
Selama ini, harga solar di Sabah dan Sarawak (RM 2,15 per liter) jauh lebih murah dibandingkan Semenanjung Malaysia yang mencapai RM 4,37 per liter. Bahkan pada April lalu, harga di Semenanjung sempat menyentuh rekor RM 6,72 per liter. Kesenjangan ini mendorong praktik penyelundupan solar bersubsidi, termasuk ke luar negeri, yang merugikan keuangan negara. Kementerian Keuangan Malaysia dalam pernyataan Minggu (21/6) mengakui kebocoran tersebut, namun belum merinci sumber pendanaan tambahan subsidi yang diperkirakan membengkak.
Menteri Keuangan II Amir Hamzah Azizan dijadwalkan mengumumkan detail lebih lanjut pada Senin. Beban subsidi BBM Malaysia sendiri sudah melonjak drastis. Pada Maret lalu, Amir Hamzah mengungkapkan tagihan subsidi BBM diproyeksikan melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi sekitar RM 3,2 miliar per bulan, dari sebelumnya RM 700 juta, seiring kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Di tengah tekanan fiskal, Malaysia juga bergerak mengamankan pasokan energi jangka panjang. Perusahaan energi nasional Petronas baru saja menandatangani sejumlah perjanjian di Turkmenistan, termasuk dengan perusahaan negara Turkmennebit dan Hazarnebit, untuk memperkuat posisinya di Laut Kaspia. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyebut kesepakatan itu akan memberi Malaysia akses ke salah satu cadangan gas terbesar di dunia, dan berpotensi meningkatkan ekspor ke China, Jepang, dan Korea Selatan. Selain itu, Rusia juga telah menjamin pasokan minyak, gas, dan solar untuk Malaysia selama setidaknya 20 tahun, meski detail perjanjian belum diungkap.
Kebijakan harga solar tunggal ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Selama ini, disparitas harga solar antara Malaysia dan Indonesia kerap memicu penyelundupan BBM bersubsidi di perbatasan darat Kalimantan dan Kepulauan Riau. Dengan harga solar Malaysia yang kini lebih murah (Rp 7.000 vs Rp 6.800 di Indonesia untuk solar bersubsidi), potensi penyelundupan dari Malaysia ke Indonesia justru bisa menurun. Namun, jika harga keekonomian solar di Indonesia terus naik, bukan tidak mungkin arus sebaliknya terjadi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati kebijakan ini sebagai bagian dari dinamika harga energi regional yang semakin kompetitif.
Keputusan Malaysia menyamakan harga solar nasional menjadi ujian bagi disiplin fiskal dan efektivitas penyaluran subsidi. Pertanyaan besarnya, akankah kebijakan ini benar-benar mampu menekan penyelundupan dan kebocoran, atau justru membuka celah baru? Dengan beban subsidi yang terus membengkak, Malaysia harus berjalan di atas tali โ menjaga daya beli rakyat tanpa menguras anggaran negara.



