Subsidi Diesel Malaysia Dipangkas, Hemat RM2 Miliar per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia memperkirakan penghematan hingga RM2 miliar per tahun dari pengetatan subsidi diesel melalui program Budi Madani.
- Lonjakan belanja subsidi dari RM800 juta menjadi hampir RM5 miliar per bulan dipicu konflik Timur Tengah dan harga minyak global yang tinggi.
- Sistem distribusi diperluas ke Sabah dan Sarawak, sementara sektor strategis seperti perikanan dan transportasi umum tetap mendapat harga khusus.

Pemerintah Malaysia mengklaim kebijakan rasionalisasi subsidi diesel melalui program Budi Madani Diesel (Budi Diesel) mampu menekan kebocoran anggaran hingga RM2 miliar setiap tahunnya. Langkah ini diambil di tengah membengkaknya belanja subsidi bahan bakar akibat gejolak geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia.
Menteri Keuangan II, Datuk Seri Amir Hamzah Azizan, dalam jumpa pers di Putrajaya, Senin (22/6), mengungkapkan bahwa sebelum konflik Timur Tengah, pemerintah hanya mengeluarkan sekitar RM800 juta per bulan untuk subsidi bensin dan diesel. Namun, angka itu melonjak drastis menjadi RM4,7 miliar pada Maret dan RM4,9 miliar pada April tahun ini seiring kenaikan harga minyak global.
βIni peningkatan yang sangat besar. Selain mengelola dampak harga minyak yang lebih tinggi, Malaysia juga harus memastikan pasokan bahan bakar tetap stabil dan berkelanjutan,β ujar Amir Hamzah. Ia menambahkan, prioritas utama pemerintah adalah menjamin kecukupan pasokan dan memastikan subsidi hanya dinikmati oleh penerima yang berhak.
Program Budi Madani dirancang untuk menyalurkan subsidi secara tertarget, mengurangi kebocoran yang selama ini terjadi akibat penyelundupan dan penyalahgunaan. Melalui perbaikan sistem distribusi, pemerintah yakin dapat menghemat hingga RM2 miliar per tahun. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya konsolidasi fiskal Malaysia di tengah tekanan anggaran yang semakin berat.
Dalam kesempatan yang sama, Amir Hamzah mengumumkan perluasan Sistem Kontrol Diesel Bersubsidi (SKDS) ke Sabah dan Sarawak. Sekitar 70.000 kendaraan niaga yang memenuhi syarat, terutama yang mengangkut barang kebutuhan pokok, akan mendapatkan diesel bersubsidi seharga RM2,15 per liter melalui kartu armada perusahaan minyak. Perluasan ini diharapkan dapat menekan biaya logistik di wilayah timur Malaysia yang selama ini bergantung pada pasokan dari Semenanjung.
Meski demikian, mekanisme subsidi diesel yang sudah ada untuk sektor strategis dan kritis tetap dipertahankan. Nelayan masih bisa membeli diesel dengan harga RM1,65 per liter, petani kecil dan pemilik lahan komoditas terdaftar melalui program BUDI Agri-Komoditi, serta angkutan umum darat seperti bus sekolah dan bus ekspres dengan harga RM1,88 per liter melalui SKDS 1.0. βKami tidak ingin sektor-sektor vital terganggu,β tegas Amir Hamzah.
Bagi Indonesia, langkah Malaysia ini menjadi contoh konkret reformasi subsidi energi yang berpotensi ditiru. Dengan struktur subsidi BBM yang juga membebani APBN, Indonesia dapat mempelajari mekanisme penargetan dan sistem kontrol distribusi seperti SKDS untuk mengurangi kebocoran. Apakah kebijakan serupa akan diadopsi di tanah air? Waktu yang akan menjawab.



