Manchester United Amankan Lahan Stadion 100.000 Kursi, Proyek Raksasa Mulai Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Manchester United telah membeli lahan seluas 25 hektar di dekat Old Trafford untuk membangun stadion berkapasitas 100.000 penonton, menjadikannya stadion terbesar di Inggris.
- Akuisisi lahan dari Indurent, anak perusahaan Blackstone, menandai langkah konkret pertama sejak rencana ambisius Sir Jim Ratcliffe diumumkan pada Maret 2025.
- Rencana induk kawasan akan dipublikasikan pada 9 Juli 2025, sementara pendanaan proyek masih belum diungkap secara rinci oleh klub.

Manchester United akhirnya mengambil langkah nyata menuju pembangunan stadion baru berkapasitas 100.000 kursi dengan mengakuisisi mayoritas lahan yang dibutuhkan di dekat markas mereka saat ini, Old Trafford. Langkah ini menjadi tonggak penting setelah rencana ambisius yang digagas oleh pemilik minoritas Sir Jim Ratcliffe pada Maret 2025 sempat diragukan realisasinya.
Klub asal Manchester itu mengonfirmasi telah membeli sebidang tanah berbentuk segitiga yang dibatasi oleh Wharfside Way, Europa Way, dan John Gilbert Way, tepat di belakang area parkir Stretford End. Lahan seluas 25 hektar itu dinilai cukup untuk menampung stadion megah yang dirancang untuk menggantikan Old Trafford yang telah berusia 115 tahun.
Collette Roche, kepala eksekutif pengembangan stadion baru Manchester United, menyebut akuisisi ini sebagai pencapaian signifikan. "Berita hari ini menunjukkan kemajuan yang kami buat menuju rumah baru kelas dunia bagi Manchester United. Membangun begitu dekat dengan Old Trafford memungkinkan kami melestarikan warisan, tradisi, dan ritual yang sangat penting bagi para penggemar," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Klub belum mengungkapkan berapa biaya pembelian lahan tersebut atau sumber pendanaannya. Pada 12 Juni lalu, United mengumumkan telah memperoleh pendanaan sebesar 550 juta dolar AS (sekitar 415 juta poundsterling) untuk melunasi obligasi senilai 425 juta dolar AS yang jatuh tempo pada Juni 2027. Namun, belum jelas apakah dana tersebut digunakan untuk transaksi tanah ini.
Langkah ini juga bertepatan dengan momen politik lokal: Andy Burnham, arsitek utama Old Trafford Regeneration Mayoral Development Corporation (MDC), baru saja dilantik sebagai anggota parlemen dan mengundurkan diri dari jabatan Wali Kota Greater Manchester. Beberapa sumber menyebutkan bahwa hanya pemerintah pusat yang dapat mengubah rencana induk bernilai miliaran poundsterling itu, terlepas dari siapa pengganti Burnham.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, proyek ini menarik untuk dicermati. Stadion berkapasitas 100.000 kursi akan menjadi yang terbesar di Inggris, melampaui Wembley. Jika terealisasi, stadion ini berpotensi menjadi tuan rumah pertandingan besar, termasuk final Piala Dunia atau Liga Champions. Selain itu, pengalaman Manchester United dalam mengelola proyek infrastruktur raksasa bisa menjadi referensi bagi pengembangan stadion di Indonesia, seperti renovasi Gelora Bung Karno atau pembangunan stadion baru untuk klub-klub Liga 1.
Namun, masih ada keraguan di kalangan skeptis. Desain stadion yang dijuluki "tenda sirkus" oleh sebagian pihak dianggap terlalu ambisius. United juga masih harus bernegosiasi dengan pemegang hak sewa di area terdampak. Rencana detail dan perkiraan biaya pembangunan belum disepakati.
Ke depannya, publik akan mendapatkan gambaran lebih jelas pada 9 Juli mendatang, saat draf rencana induk kawasan Old Trafford dipresentasikan. Pertanyaan besarnya: akankah visi Ratcliffe menjadi kenyataan, atau hanya akan menjadi sekadar wacana mahal yang tak pernah terwujud?



