Pelatih Italia Berusia 40 Tahun, Alessio Lisci, Resmi Tangani PAOK
Baca dalam 60 detik
- Alessio Lisci, mantan pelatih Osasuna, resmi menandatangani kontrak dua tahun dengan klub Yunani PAOK.
- Karier Lisci dimulai dari pelatih kebugaran di akademi Lazio sebelum meroket di Levante dan klub Spanyol lainnya.
- Kehadiran Lisci menambah daftar panjang pelatih Italia yang berkarier di luar negeri, termasuk di Eropa Timur.

Pelatih asal Italia, Alessio Lisci, resmi ditunjuk sebagai nahkoda baru PAOK Salonika, klub raksasa Liga Yunani, dengan kontrak berdurasi dua tahun. Keputusan ini diumumkan pada hari Rabu (25/6) setelah PAOK berpisah dengan Razvan Lucescu pekan lalu. Lisci, yang baru berusia 40 tahun, menjadi salah satu pelatih termuda di kancah sepak bola Eropa, namun telah membangun reputasi sebagai arsitek taktik yang tangguh.
Karier Lisci dimulai dari bawah. Ia memulai sebagai pelatih kebugaran di akademi Lazio sebelum pindah ke Levante pada 2011. Di klub Spanyol itu, ia perlahan naik pangkat: menangani tim muda, menjadi asisten pelatih, hingga akhirnya dipercaya sebagai pelatih kepala pada 2021. Setelah Levante, ia sempat menangani Mirandes dan kemudian Osasuna pada musim 2025-26. Bersama Osasuna, ia mencatatkan 11 kemenangan, 9 hasil imbang, dan 18 kekalahan. Meski sempat mendekati zona Eropa, rentetan lima kekalahan beruntun membuat timnya nyaris terdegradasi. Osasuna akhirnya selamat dengan selisih gol, mengirim Mallorca turun kasta, namun Lisci tetap dipecat.
Kepergian Lisci dari Osasuna membuka babak baru di Yunani. PAOK, yang musim lalu finis di papan atas Liga Yunani, berharap Lisci mampu membawa stabilitas dan gaya bermain modern. Lisci dikenal sebagai pelatih yang mengedepankan penguasaan bola dan pressing tinggi, filosofi yang ia asah selama bertahun-tahun di Spanyol. Ia menggantikan Razvan Lucescu, yang meninggalkan PAOK setelah lima musim dan membawa klub meraih beberapa trofi domestik.
Fenomena pelatih Italia yang berkarier di luar negeri semakin marak. Selain Lisci, nama-nama seperti Antonio Conte, Carlo Ancelotti, dan Roberto De Zerbi telah membuktikan kualitas di liga-liga top Eropa. Lisci, meski belum setenar mereka, mewakili generasi baru pelatih Italia yang berani merantau. Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa sepak bola Italia tidak hanya melahirkan pemain, tetapi juga pelatih dengan daya saing global. Klub-klub Asia, termasuk Indonesia, kerap merekrut pelatih Eropa; langkah Lisci bisa menjadi inspirasi bagi pelatih muda Tanah Air untuk membangun karier di luar negeri.
PAOK sendiri tengah bersiap menghadapi musim depan dengan target merebut gelar juara Liga Yunani dan tampil kompetitif di kompetisi Eropa. Dengan kedatangan Lisci, klub berharap mendapatkan sentuhan taktik baru yang bisa mengangkat performa tim. Pertanyaan besarnya: mampukah Lisci mengulang kesuksesan seperti yang ia raih di Levante, atau akankah tekanan di Yunani menjadi ujian terberatnya? Hanya waktu yang akan menjawab.



