Brigjen Yuniar Protes Ajudan Ditarik Panitia: TNI AD Sebut BIB Terlepas di Lintasan
Baca dalam 60 detik
- Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono membeli empat tiket resmi Mandiri Jogja Marathon untuk dirinya, istri, anak, dan ajudan, namun ajudan ditarik panitia karena BIB-nya terlepas.
- Kadispenad Brigjen Donny Pramono menyebut insiden itu kesalahpahaman teknis di lapangan dan telah diselesaikan dengan komunikasi langsung antara penyelenggara dan Danrem.
- TNI AD mengapresiasi profesionalitas panitia dan meminta masyarakat tidak mengaitkan kejadian dengan isu lain di luar fakta.

Sebuah insiden di ajang Mandiri Jogja Marathon 2026 pada Minggu (21/6) menarik perhatian publik setelah video yang memperlihatkan Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, bersitegang dengan panitia karena ajudannya ditarik keluar lintasan. TNI Angkatan Darat akhirnya buka suara, mengklarifikasi bahwa perwira tinggi tersebut telah membeli empat tiket resmi dan insiden dipicu oleh nomor peserta yang terlepas.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen TNI Donny Pramono, menjelaskan bahwa Yuniar mengikuti maraton bersama istri, satu anak, dan seorang ajudan. Mereka semua terdaftar sebagai peserta dan memiliki BIB (nomor identitas) yang wajib ditempelkan di tubuh. Namun, di tengah perlombaan yang padat, BIB milik ajudan diduga terlepas dan jatuh di lintasan. Petugas pengawas yang tidak melihat nomor tersebut kemudian menghentikan ajudan yang saat itu tengah berlari sambil mendokumentasikan Yuniar.
"Peristiwa tersebut merupakan kesalahpahaman yang terjadi di lapangan antara petugas pengawas lintasan dengan ajudan Danrem 072/Pamungkas," ujar Donny dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan bahwa setelah kejadian, pihak penyelenggara, event organizer, dan Yuniar telah berkomunikasi langsung dan sepakat bahwa masalah itu murni teknis dan telah diselesaikan dengan baik.
Video yang beredar memperlihatkan momen ketegangan antara Yuniar dan panitia. Dalam rekaman, Yuniar tampak tidak terima ajudannya diberhentikan di tengah jalan, meskipun ajudan tersebut tidak menggunakan BIB yang terlihat. Publik pun ramai memperdebatkan apakah tindakan panitia sudah tepat atau justru berlebihan. Namun, Donny menegaskan bahwa TNI AD mendukung penegakan aturan perlombaan.
"Kami mengapresiasi kerja panitia yang telah bertindak profesional dalam menjaga ketertiban dan menerapkan peraturan yang berlaku," kata Donny. Ia juga berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara proporsional dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain yang tidak sesuai fakta. "Jangan terjerumus pada informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya," imbaunya.
Insiden ini mengingatkan pada pentingnya kepatuhan terhadap aturan dalam event olahraga massal, terutama bagi pejabat publik yang menjadi sorotan. Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi ketika peserta tanpa BIB atau identitas jelas ditarik panitia, namun jarang melibatkan perwira tinggi TNI. Ke depan, koordinasi antara peserta VIP dan penyelenggara perlu diperkuat untuk menghindari kesalahpahaman serupa. Apakah TNI AD akan mengeluarkan pedoman khusus bagi anggotanya yang mengikuti event publik? Publik menanti langkah lanjutan.



