Tottenham Siapkan Dana Besar untuk Gakpo, tetapi Liverpool Ogah Melepas: Bisakah Ganti Richarlison?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham dikabarkan mengincar Cody Gakpo sebagai pengganti Richarlison, namun Liverpool mematok harga selangit.
- Kinerja Richarlison di Spurs dinilai menurun sejak pindah dengan biaya 60 juta pound, memicu spekulasi penjualan.
- Jika transfer Gakpo gagal, Spurs berisiko kehilangan Richarlison secara gratis musim depan.

Masa depan Richarlison di Tottenham Hotspur kembali menjadi sorotan. Di tengah performa apiknya pada pramusim, sang penyerang Brasil justru dikabarkan akan dijual. Manajer anyar Spurs, Roberto De Zerbi, bahkan mengakui ketidakpastian nasib pemain berusia 29 tahun itu, terutama karena kontraknya hanya menyisakan satu musim lagi. Situasi ini memicu spekulasi bahwa Tottenham tengah mencari pengganti, dengan nama Cody Gakpo dari Liverpool mencuat sebagai kandidat utama.
Richarlison memang tampil tajam pada tur pramusim, mencetak dua gol dalam dua laga, termasuk gol kemenangan kontra Chelsea. Namun, statistiknya sejak bergabung dengan Spurs pada 2022 dengan biaya 60 juta pound terbilang mengecewakan. Dalam tiga musim, ia hanya mengoleksi 27 gol di Premier League, jauh di bawah catatannya saat membela Everton yang mencapai 43 gol dalam empat tahun. Penurunan produktivitas ini membuat manajemen Spurs berpikir ulang untuk mempertahankannya, apalagi jika tidak diperpanjang kontraknya, mereka berisiko kehilangan pemain secara gratis.
Di sisi lain, Tottenham kabarnya telah lama memantau Cody Gakpo. Jurnalis Alex Crook, dalam kanal YouTube talkSPORT, menyebut Spurs sangat menginginkan pemain asal Belanda itu. Namun, Liverpool tidak berniat melepas Gakpo musim panas ini. Mereka percaya pemain berusia 26 tahun itu bisa berkembang di bawah manajer baru, Andoni Iraola. Oleh karena itu, Tottenham harus menyiapkan tawaran yang sangat besar untuk bisa memboyongnya, mungkin di atas angka 69 juta pound yang menjadi patokan setelah transfer Anthony Gordon ke Barcelona.
Menariknya, Gakpo dan Richarlison memiliki kemiripan, baik dari sisi posisi maupun gaya bermain. Keduanya adalah pemain sayap kiri yang bisa dimainkan sebagai penyerang tengah, namun tidak benar-benar menjadi tipikal winger murni atau striker orthodox. Gakpo, yang bergabung dengan Liverpool dari PSV Eindhoven, juga kerap dikritik karena inkonsistensinya. Catatannya di Premier League tidak pernah menembus 10 gol per musim, dan totalnya bersama The Reds baru 50 gol dalam 180 penampilan. Sementara itu, Richarlison sempat dua kali mencetak 11 gol dalam semusim, tetapi di musim lainnya ia hanya mampu mencetak lima gol.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik karena menunjukkan betapa sulitnya klub sekelas Tottenham bersaing di pasar pemain top Eropa. Keputusan Liverpool yang menolak melepas Gakpo meski ada tawaran besar mencerminkan strategi klub-klub besar yang kini lebih memilih mempertahankan aset muda daripada tergoda uang. Sementara itu, Tottenham yang gagal mendapatkan target utama bisa terjebak dalam situasi sulit: mempertahankan Richarlison yang kontraknya hampir habis atau menjualnya dengan harga murah.
De Zerbi sendiri belum memberikan sinyal jelas apakah Richarlison akan bertahan. Dalam wawancara pascapertandingan, ia hanya mengatakan bahwa keputusan ada di tangan klub. Sementara itu, para penggemar Spurs mulai mempertanyakan kebijakan transfer klub yang sering gagal dengan pembelian mahal, seperti Dominic Solanke (65 juta pound) dan Tanguy Ndombele yang menjadi contoh kegagalan investasi besar.
Jika Gakpo benar-benar menjadi pengganti Richarlison, Spurs mungkin hanya akan mendapatkan pemain dengan profil yang sama: berbakat tetapi inkonsisten. Pertanyaannya, apakah Tottenham akan berani mengeluarkan dana besar untuk pemain yang belum membuktikan diri di level tertinggi? Atau akankah mereka mencari alternatif lain yang lebih murah dan potensial? Keputusan ini akan menentukan arah kebijakan transfer Spurs dalam beberapa musim ke depan.



