Dukungan CAF Menjadi Tameng Politik Infantino di Tengah Gelombang Boikot UEFA
Baca dalam 60 detik
- Komite Eksekutif CAF secara bulat menyatakan dukungan untuk Gianni Infantino, memperkuat posisinya menjelang pemilihan presiden FIFA Maret 2027.
- Dukungan dari 54 asosiasi anggota Afrika menjadi penyeimbang terhadap sikap kritis UEFA, yang mengancam boikot Piala Dunia selama Infantino menjabat.
- Langkah CAF menyiratkan dinamika politik sepak bola global yang semakin terpolarisasi, dengan Afrika memilih pragmatisme demi pembinaan sepak bola domestik.

Di tengah tekanan internasional yang menyelimuti kepemimpinan Gianni Infantino, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru tampil sebagai benteng pertahanan yang solid. Pada Kamis (6/8), Komite Eksekutif CAF mengumumkan dukungan penuh terhadap presiden FIFA itu, sebuah sikap yang kontras dengan langkah UEFA yang sehari sebelumnya menegaskan komitmennya untuk memboikot Piala Dunia di semua level selama Infantino masih berkuasa.
Keputusan CAF ini bukan sekadar formalitas. Dengan 54 suara dari total 211 asosiasi anggota FIFA, blok Afrika merupakan kekuatan politik yang signifikan. Sejak Infantino menjabat pada 2016, dukungan dari benua ini relatif konsisten, dan kini kembali dipertegas di tengah badai kritik yang dipicu oleh rencana kontroversial pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) serta wacana penjualan hak komersial Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan.
Presiden CAF, Patrice Motsepe, dalam pernyataannya menyambut baik keputusan FIFA untuk meninjau ulang proses yang memicu gejolak terbesar selama masa kepemimpinan Infantino. Motsepe menekankan pentingnya tata kelola yang baik dan transparansi dalam sepak bola global, seraya menegaskan komitmen CAF untuk bekerja sama dengan FIFA dan seluruh pemangku kepentingan. "Kami berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan FIFA, asosiasi anggotanya, konfederasi lain, dan para pemangku kepentingan untuk menjaga dan mematuhi praktik terbaik tata kelola, due process, dan transparansi," ujarnya.
Dukungan ini datang setelah sebelumnya lima tokoh kunci sepak bola Afrika, termasuk Wakil Presiden CAF Fouzi Lekjaa dari Maroko, serta anggota Dewan FIFA Hany Abo Rida (Mesir), Hamidou Djibrilla (Niger), dan Ahmed Yahya (Mauritania), menyatakan sikap serupa. Bahkan Veron Mosengo-Omba, presiden federasi sepak bola Republik Demokratik Kongo yang baru terpilih, turut menambah bobot dukungan. Motsepe sendiri, beberapa hari sebelum skandal penjualan hak siar Piala Dunia mencuat, telah melontarkan pujian pribadi yang hangat kepada Infantino, menyebutnya sebagai "sahabat yang setia" dan "loyal terhadap Afrika".
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di Asia Tenggara, Indonesia kerap menjadi sorotan dalam kebijakan FIFA, terutama terkait pembinaan usia muda dan infrastruktur. Dukungan CAF kepada Infantino dapat memengaruhi arah kebijakan FIFA di kawasan Asia, termasuk alokasi dana pengembangan yang selama ini menjadi andalan PSSI. Namun, sikap kritis UEFA juga mengingatkan bahwa transparansi dan tata kelola yang baik adalah tuntutan yang tidak bisa ditawar, sejalan dengan upaya reformasi sepak bola nasional yang tengah berjalan.
Pertarungan politik di internal FIFA ini diperkirakan akan semakin memanas menjelang kongres pemilihan. Pertanyaannya, akankah dukungan Afrika yang solid mampu meredam gelombang oposisi dari Eropa dan kawasan lain? Atau justru sebaliknya, sikap CAF ini akan memperdalam jurang polarisasi dalam tubuh FIFA? Yang jelas, langkah CAF kali ini bukan hanya soal kesetiaan, melainkan juga kalkulasi strategis untuk memastikan Afrika tetap menjadi pemain kunci dalam percaturan sepak bola dunia.



