Lockup Pertama Berakhir, Saham SpaceX Melonjak: Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Ribuan saham SpaceX mulai diperdagangkan bebas setelah masa lockup pertama berakhir, memicu lonjakan volume transaksi hingga US$23 miliar.
- Peningkatan pasokan saham ini berpotensi menambah volatilitas harga, sementara valuasi perusahaan masih di bawah harga IPO.
- Bagi investor Indonesia, pergerakan saham SpaceX menjadi sinyal penting untuk membaca tren saham teknologi global dan peluang diversifikasi.

Saham SpaceX mencatat kenaikan tipis pada Kamis (6/8) di tengah volume perdagangan yang melonjak lebih dari dua kali lipat, setelah berakhirnya masa lockup pertama yang membuka peluang penjualan saham oleh karyawan dan investor awal. Fenomena ini menjadi ujian bagi ketahanan pasar terhadap tambahan pasokan saham raksasa teknologi antariksa tersebut.
Harga saham perusahaan yang bermarkas di California itu naik 1,4 persen menjadi US$109,86 per saham, dengan nilai transaksi menembus US$23 miliar hingga tengah hari. Angka tersebut menjadikan sesi ini sebagai perdagangan terpadat sejak SpaceX resmi masuk ke indeks Nasdaq 100 pada 7 Juli lalu. Lonjakan volume ini terjadi setelah sekitar 911,5 juta saham yang sebelumnya terkunci kini bebas diperjualbelikan oleh karyawan dan sejumlah investor awal, menambah total saham beredar yang sebelumnya hanya 639 juta saham.
Pelonggaran lockup ini merupakan tahap pertama dari serangkaian pembukaan yang akan berlangsung hingga 8 Desember mendatang. Secara kumulatif, seluruh pembukaan tersebut akan meningkatkan jumlah saham yang dapat diperdagangkan secara publik menjadi sekitar 40 persen dari total perusahaan. Sementara itu, 60 persen sisanya, termasuk kepemilikan Elon Musk, akan tetap terkunci hingga pertengahan 2027. Para analis memandang momen ini dengan hati-hati, karena meskipun pemegang saham tidak wajib menjual, kehadiran tambahan pasokan saham kerap memicu tekanan jual.
Kekhawatiran akan aksi jual memang beralasan. Sejak debutnya pada 12 Juni lalu, harga saham SpaceX telah kehilangan lebih dari seperempat nilainya, sementara indeks Nasdaq Composite justru menguat sekitar 2 persen. Bahkan, pada Rabu (5/8) sahamnya sempat terpangkas 14 persen setelah laporan keuangan kuartalan menunjukkan kerugian operasional yang dalam serta rencana belanja besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini membuat SpaceX tertinggal dibandingkan saham teknologi lain, seperti yang tercermin dari kenaikan 4,8 persen pada Roundhill Magnificent Seven ETF.
Menurut Carolane de Palmas, analis pasar di ActivTrades, karyawan dan investor awal mungkin tergoda untuk mengamankan keuntungan atau mencari peluang investasi lain. "Bahkan tanpa aksi jual besar-besaran, peningkatan jumlah saham yang tersedia berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi," ujarnya. Namun, tidak semua pihak pesimistis. Micah Walter-Range, spesialis industri antariksa yang terlibat dalam pengembangan indeks Procure Space ETF, menilai SpaceX telah berhasil mencapai efisiensi luar biasa di bidang peluncuran dan satelit, dan kini menerapkan mentalitas yang sama untuk membangun infrastruktur AI.
Sebagian investor tetap optimistis pada prospek jangka panjang. Phillip Lord, CEO Bitcoin Japan yang juga investor SpaceX, menegaskan bahwa perusahaannya berinvestasi untuk jangka waktu sepuluh tahun. "Anda khawatir tentang potensi penurunan 5, 10, atau 20 persen pada pergerakan saham, tetapi orang ini sedang mengubah dunia," katanya merujuk pada Musk. Musk sendiri pernah menyatakan target pendapatan SpaceX mencapai US$1 triliun pada 2030.
Bagi investor Indonesia, dinamika saham SpaceX ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana sentimen pasar dan kebijakan perusahaan teknologi global dapat memengaruhi keputusan investasi. Meskipun akses langsung ke saham SpaceX masih terbatas, pergerakannya kerap menjadi indikator bagi saham teknologi lain di bursa global. Selain itu, meningkatnya minat pada perusahaan AI dan antariksa dapat membuka peluang bagi perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang serupa, baik sebagai mitra maupun pesaing. Pertanyaannya, apakah investor lokal akan meniru strategi jangka panjang ala Lord, atau justru mengambil keuntungan dari volatilitas jangka pendek?



