Keir Starmer Lengser: Inggris Bersiap Sambut Perdana Menteri Ketujuh dalam Satu Dekade
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengundurkan diri setelah tekanan politik yang memuncak, membuka jalan bagi kepemimpinan baru Partai Buruh.
- Kekalahan telak dalam pemilu lokal dan pemberontakan internal partai menjadi pemicu utama mundurnya Starmer, yang masa jabatannya hanya berlangsung kurang dari dua tahun.
- Andy Burnham, yang baru memenangkan kursi parlemen, menjadi kandidat kuat pengganti Starmer, sementara Inggris menghadapi periode ketidakstabilan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin pagi, mengakhiri kepemimpinan yang hanya bertahan kurang dari dua tahun dan membuka babak baru ketidakpastian politik di Britania Raya. Langkah ini diambil setelah tekanan yang terus meningkat dari internal partai dan kekalahan telak dalam pemilihan lokal bulan lalu.
Dalam pernyataan singkat di luar kediaman resminya di 10 Downing Street, Starmer mengatakan bahwa ia akan tetap menjabat hingga proses pemilihan pemimpin baru selesai demi memastikan transisi kekuasaan yang tertib. Ia menyebut setiap keputusan yang diambilnya semata-mata untuk kepentingan negara, seraya berterima kasih kepada keluarganya yang menjadi pendukung setia.
Pengunduran diri ini menandai kali ketujuh dalam satu dekade terakhir Inggris berganti perdana menteri—sebuah rekor pergantian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern negara tersebut. Situasi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang mendalam terhadap sistem politik Inggris, yang juga berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi dan hubungan internasionalnya.
Tekanan terhadap Starmer semakin memuncak setelah kekalahan telak Partai Buruh dalam pemilu sela di daerah pemilihan Makerfield, Lancashire barat laut. Kemenangan telak Andy Burnham—yang selama ini menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester—telah membuka jalan baginya untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan partai. Dalam pidato kemenangannya, Burnham memperingatkan bahwa partai yang berkuasa memiliki "kesempatan terakhir untuk berubah".
Masa kepemimpinan Starmer diwarnai serangkaian kebijakan yang kontroversial, perubahan haluan kebijakan yang membingungkan, serta skandal yang melibatkan penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar untuk Washington. Mandelson diketahui memiliki hubungan dekat dengan mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein, yang nyaris menjatuhkan Starmer pada Maret lalu. Selain itu, kebijakan imigrasi dan energi yang dinilai gagal turut memperburuk citranya di mata publik.
Bagi Indonesia, perubahan kepemimpinan di Inggris ini patut dicermati mengingat Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama di Eropa. Ketidakstabilan politik di London berpotensi mempengaruhi kebijakan perdagangan dan investasi bilateral, terutama dalam sektor energi dan infrastruktur. Selain itu, Inggris juga menjadi tujuan utama pelajar Indonesia, sehingga perubahan kebijakan imigrasi dan pendidikan tinggi perlu diantisipasi.
Analis politik menilai bahwa proses suksesi kepemimpinan Partai Buruh akan berlangsung sengit, dengan beberapa nama potensial selain Burnham, termasuk Menteri Luar Negeri Yvette Cooper dan Menteri Bisnis Peter Kyle. Namun, Burnham dianggap memiliki keunggulan karena popularitasnya di tingkat lokal dan pengalamannya sebagai wali kota. Partai Buruh dijadwalkan menggelar konferensi tahunan pada akhir September, yang kemungkinan menjadi ajang pengumuman pemimpin baru.
Dengan mundurnya Starmer, Inggris kembali memasuki periode ketidakpastian politik. Pertanyaan besarnya kini: akankah pemimpin baru mampu mengembalikan stabilitas dan kepercayaan publik, atau justru memperpanjang siklus krisis yang telah melanda negara tersebut selama satu dekade terakhir?



