Andy Burnham: Dari 'Raja Utara' Menuju 10 Downing Street
Baca dalam 60 detik
- Mantan Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, muncul sebagai kandidat terkuat Perdana Menteri Inggris setelah Keir Starmer mengundurkan diri.
- Burnham mengusung 'Manchesterism', sebuah pendekatan politik yang memprioritaskan pemberdayaan daerah dan penolakan terhadap ekonomi trickle-down.
- Kepemimpinannya diuji: mampukah popularitas regionalnya diterjemahkan menjadi daya tarik nasional di tengah kritik atas detail kebijakan?

Andy Burnham, tokoh yang dijuluki 'Raja Utara' berkat pembelaannya terhadap kawasan Inggris bagian utara, kini menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Keir Starmer sebagai pemimpin Partai Buruh dan Perdana Menteri Inggris. Pengumuman pengunduran diri Starmer pada Senin (22/6) membuka kontestasi kepemimpinan yang berpotensi mengubah arah politik Inggris, dan Burnham langsung menyatakan diri siap bertarung.
Keputusan Starmer mundur dipicu oleh serangkaian kesalahan politik, ketidakpuasan internal, dan hasil pemilu daerah yang buruk. Hampir seperempat anggota parlemen Partai Buruh menuntut kepergiannya. Tekanan semakin kuat setelah Burnham memenangkan kursi parlemen dalam pemilu sela di Makerfield, Inggris utara, dengan kemenangan telak atas lawannya dari Partai Reformasi.
Lahir di wilayah barat laut Inggris antara Liverpool dan Manchester, Burnham adalah putra seorang insinyur British Telecom dan seorang resepsionis. Ia bergabung dengan Partai Buruh sejak remaja dan belajar di Universitas Cambridge. Karier politiknya dimulai sebagai anggota parlemen pada 2001, naik daun di bawah Tony Blair, dan menjabat menteri kesehatan di kabinet Gordon Brown (2007โ2010). Dua kali ia gagal menjadi ketua partai, pada 2010 dan 2015.
Pada 2017, Burnham memilih mundur dari politik nasional untuk menjadi wali kota Greater Manchester. Langkah ini justru mendefinisikan ulang identitas politiknya. Selama tiga periode, ia memimpin revitalisasi pusat kota Manchester, mendorong sistem transportasi publik Bee Network, dan memperjuangkan devolusi kekuasaan dari pemerintah pusat. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik: ia berkonfrontasi dengan Perdana Menteri Boris Johnson soal bantuan keuangan untuk wilayah utara, mengukuhkan citranya sebagai pembela daerah yang terabaikan Westminster.
Burnham membangun pendekatan yang disebutnya 'Manchesterism'โsebuah gagasan yang menekankan pemberdayaan daerah dan pemerataan ekonomi, menjauh dari sentralisasi London. Ia menolak ekonomi trickle-down yang dinilainya gagal mengangkat kesejahteraan masyarakat di luar ibu kota. Dalam kampanye pemilu sela, ia berjanji menurunkan tagihan energi, memperbaiki transportasi, dan menciptakan lapangan kerja bagi kaum muda. โApa yang kami bangun di Greater Manchester harus menjadi skala nasional,โ ujarnya.
Namun, kritik mulai bermunculan. Banyak yang meragukan detail kebijakan Burnham, terutama soal pendanaan untuk janji-janji ambisiusnya. Tim Bale, profesor politik dari Queen Mary University of London, mempertanyakan apakah popularitasnya di utara bisa bertahan di selatan, timur, dan barat Inggris. Meski demikian, Bale mengakui Burnham memiliki 'faktor X' yang membuatnya terlihat bukan politikus biasaโmampu berkomunikasi dengan warga biasa. โAndy Burnham mungkin salah satu politikus paling populer di negeri ini, meskipun itu tidak berarti banyak,โ katanya.
Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini menarik dicermati. Inggris adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dan perubahan kepemimpinan di London bisa berdampak pada kebijakan perdagangan, investasi, serta kerja sama perubahan iklim. Pendekatan Burnham yang lebih populis dan pro-daerah mungkin akan mendorong kebijakan yang lebih proteksionis atau fokus pada isu domestik, yang bisa memengaruhi hubungan bilateral. Selain itu, gagasan devolusi kekuasaan yang diusung Burnham bisa menjadi referensi bagi wacana otonomi daerah di Indonesia.
Kini perhatian tertuju pada apakah Burnham akan menjadi ketua partai tanpa kontestasi, seperti yang diinginkan banyak anggota parlemen Buruh, atau akan muncul penantang lain. Jika ia berhasil memenangkan kursi Perdana Menteri, pertanyaan besarnya adalah: mampukah 'Raja Utara' memerintah seluruh kerajaan?



