Mata Manajer di Piala Dunia: Dari Messi hingga Olise, Siapa yang Layak Direkrut?
Baca dalam 60 detik
- Thomas Frank mengaku lebih mudah menilai pemain secara langsung di Piala Dunia ketimbang hanya mengandalkan data atau klip video.
- Ia mengidentifikasi bakat baru seperti Yan Diomande dan Christ Inao Oulai, serta memuji performa Michael Olise yang dinilai bisa menjadi pemain terbaik turnamen.
- Meski Messi tetap favorit sebagai penggemar, Frank secara realistis memilih Vitinha sebagai gelandang paling unik yang layak direkrut untuk timnya.

Piala Dunia bukan sekadar pesta sepak bola bagi pelatih sekelas Thomas Frank. Di balik euforia suporter dan gemerlap stadion, manajer Brentford asal Denmark itu mengaku tak bisa melepas kacamata analitisnya. Setiap pertandingan ia saksikan dengan satu tujuan: mencari pemain yang bisa memperkuat skuadnya, baik untuk sekarang maupun masa depan.
Frank, yang kini berperan sebagai pengamat di BBC Sport, menuturkan bahwa Piala Dunia memberinya kesempatan langka untuk melihat langsung pemain-pemain yang sebelumnya hanya ia kenal dari data atau cuplikan pertandingan. "Bahkan dengan segala data yang tersedia, masih ada kejutan di luar sana," ujarnya. Ia mencontohkan dua pemain Pantai Gading yang baru benar-benar ia saksikan di turnamen ini: Yan Diomande dan Christ Inao Oulai.
Diomande, bek RB Leipzig yang tengah naik daun, sebelumnya sudah masuk radar Frank saat masih menangani Brentford. Namun, baru setelah menyaksikan aksinya melawan Jerman secara penuh, Frank merasa benar-benar mengenal kemampuannya. "Sekarang apa yang bisa dia lakukan tersimpan di hard disk di kepala saya. Sebagai pelatih, itulah cara terbaik untuk mengingat pemain," katanya. Sementara Oulai, gelandang Trabzonspor berusia 20 tahun, dinilai memiliki mobilitas dan teknik yang kuat meski timnya kalah dari Jerman.
Frank juga mengakui keterbatasan waktunya untuk mengikuti semua liga. Ia lebih fokus pada Premier League dan Liga Champions, sehingga Piala Dunia menjadi ajang untuk "mengisi hard disk" dengan pengetahuan tentang pemain-pemain dari kompetisi lain. "Saya ingin menonton lebih banyak pertandingan, tetapi itu tidak mungkin. Meski saya memikirkan sepak bola 24/7, waktu terbatas," keluhnya.
Sebagai penggemar, Frank tetap mengidolakan Lionel Messi. Ia berencana menonton laga Argentina melawan Austria bersama putranya yang juga penggemar berat Messi. "Ini mungkin Piala Dunia terakhirnya, jadi momen ini spesial," ujarnya. Namun, saat ditanya pemain mana yang akan ia rekrut pertama dari 1.428 peserta turnamen, Frank menjawab dengan logika manajer: bukan Messi yang sudah berusia 38 tahun, melainkan Vitinha, gelandang Portugal dan PSG. "Dia luar biasa musim ini. Saya menghadapinya dua kali bersama Spurs, dan penampilannya... wow," kenang Frank.
Nama lain yang menarik perhatian Frank adalah Michael Olise. Gelandang serang Bayern Munchen itu nyaris direkrut Brentford dari Reading sebelum akhirnya pindah ke Crystal Palace. Frank memuji etos kerja Olise yang rendah hati dan kemampuannya dengan kaki kiri. "Dalam pertandingan pertama Prancis melawan Senegal, Mbappe mencetak dua gol, tetapi Olise bagi saya adalah pemain terbaik. Ia berlari keras, selalu terlibat, dan bisa melakukan hal-hal luar biasa dari kaki kirinya," puji Frank. Ia bahkan memprediksi Olise bisa menjadi pemain terbaik turnamen ini.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perspektif Frank ini membuka wawasan tentang bagaimana manajer top Eropa memanfaatkan Piala Dunia sebagai ajang scouting. Di tengah gempuran data dan statistik, pengamatan langsung tetap menjadi alat paling ampuh untuk menilai karakter dan potensi pemain. Pertanyaan besarnya: akankah ada pemain yang tampil menonjol di Piala Dunia ini dan kemudian merumput di Liga Indonesia? Atau justru sebaliknya, pemain Indonesia yang berlaga di turnamen ini mampu menarik minat klub-klub Eropa? Hanya waktu yang akan menjawab.



