Minyak Dunia Terkoreksi: AS-Iran Sepakat Longgarkan Blokade, Pasokan Mengalir
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan AS-Iran di Swiss memicu penurunan harga minyak global karena kekhawatiran pasokan mereda.
- Iran mengklaim telah mengamankan pengecualian ekspor minyak dan petrokimia, serta memulai kembali pengiriman lebih dari 25 juta barel.
- Pemulihan pasokan penuh diperkirakan belum terjadi tahun ini, dengan tantangan logistik dan produksi yang masih membayangi.

Harga minyak mentah dunia ambles pada Senin (22/6) setelah putaran perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss membuahkan sinyal pelonggaran sanksi ekspor minyak. Pergerakan ini membalikkan lonjakan awal yang dipicu oleh ancaman militer AS dan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Brent crude tercatat turun 1,35 dolar AS menjadi 79,22 dolar AS per barel pada pukul 10.09 GMT. Sebelumnya, harga sempat melesat ke 82,30 dolar AS setelah Presiden Donald Trump mengancam akan kembali memerangi Iran dan Teheran mengumumkan penutupan jalur strategis tersebut. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak berjangka Agustus melemah 56 sen ke 75,29 dolar AS per barel.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai kemajuan dialog bilateral menjadi faktor dominan yang menekan harga minyak. "Pembicaraan AS-Iran di Swiss kemungkinan menjadi penyebab utama pelemahan harga hari ini," ujarnya. Menurut Staunovo, Iran telah melanjutkan ekspor minyak yang sebelumnya terhambat blokade angkatan laut AS. "Peluncuran barel-barel itu menambah pasokan ke pasar," imbuhnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan negaranya telah memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, pencairan sebagian aset beku, serta peluncuran rencana rekonstruksi. Perundingan tingkat tinggi yang dimulai Minggu (21/6) itu merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh sejak April setidaknya 60 hari ke depan.
Di sisi lain, sejumlah negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak telah menawarkan tambahan pasokan minyak kepada pelanggan dalam sepekan terakhir. Irak, misalnya, berencana memulihkan produksi secara bertahap ke level 4,2-4,3 juta barel per hari. Wakil Menteri Perminyakan Irak untuk urusan hulu menyatakan hal itu dalam pernyataan resmi.
Bank ANZ memperkirakan sekitar 2-3 juta barel per hari dapat dipulihkan dalam empat pekan pertama. Namun, pemulihan selanjutnya akan lebih menantang. ANZ menyebut tambahan 2-3,5 juta barel per hari berpotensi pulih pada kuartal III-2026 jika stabilitas terjaga, sementara 1-2 juta barel per hari mungkin hilang permanen atau semipermanen. "Perolehan awal akan didorong oleh logistik (pengiriman) ketimbang produksi. Pemulihan penuh tidak mungkin terjadi tahun ini," tulis ANZ dalam catatannya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan angin segar bagi neraca impor minyak. Dengan harga minyak yang cenderung turun, beban subsidi energi dalam APBN berpotensi berkurang. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat ketidakpastian geopolitik masih tinggi. Serangan Israel di Lebanon yang menewaskan sedikitnya 20 orang pada Sabtu (20/6) menunjukkan bahwa risiko konflik regional belum sepenuhnya mereda.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana kesepakatan AS-Iran dapat bertahan dan apakah pasokan Iran benar-benar akan mengalir deras tanpa hambatan. Jika ya, tekanan harga minyak bisa berlanjut, menguntungkan negara pengimpor seperti Indonesia. Namun, jika negosiasi buntu lagi, volatilitas harga dipastikan akan kembali.



