Gravina Akui Terlambat Mundur: Masa Depan Sepak Bola Italia Kini di Tangan Abete atau Malago
Baca dalam 60 detik
- Gabriele Gravina resmi meninggalkan kursi presiden FIGC setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, dan mengakui seharusnya ia mundur lebih awal.
- Pemilihan presiden baru FIGC mempertemukan Giancarlo Abete dan Giovanni Malago; Malago disebut sebagai favorit dan berpotensi membawa kembali Roberto Mancini sebagai pelatih timnas.
- Krisis sepak bola Italia menjadi pelajaran bagi federasi Asia, termasuk Indonesia, tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan dan evaluasi dini saat target besar gagal tercapai.

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang akan segera lengser, Gabriele Gravina, menyatakan keyakinannya bahwa masa depan sepak bola Italia berada di tangan yang tepat, baik Giancarlo Abete maupun Giovanni Malago. Ia juga mengakui bahwa dirinya seharusnya meninggalkan posisi puncak federasi lebih awal dari yang ia lakukan.
Pernyataan itu disampaikan Gravina di sela-sela Sidang FIGC di Roma, Senin (24/3), yang digelar untuk memilih presiden baru. Pemilihan ini digelar setelah Gravina mengundurkan diri menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026 pada akhir Maret lalu. Dua kandidat yang bersaing adalah Giancarlo Abete dan Giovanni Malago, keduanya figur senior yang pernah memimpin federasi sebelumnya.
Gravina, yang menjabat sejak 2018, mengaku bahwa pengalaman memimpin FIGC selama delapan tahun terakhir merupakan perjalanan yang luar biasa. Namun, ia juga menyesali keputusannya untuk tidak mundur lebih cepat. โSaya sudah mengatakannya, saya seharusnya pergi lebih awal,โ ujar pria berusia 72 tahun itu kepada wartawan sebelum pemilihan dimulai.
Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntunโsetelah absen di edisi 2018 dan 2022โmenjadi pukulan telak bagi sepak bola Negeri Pizza. Kondisi ini memicu krisis kepemimpinan di FIGC dan mempercepat langkah Gravina untuk turun takhta. Pemilihan kali ini dianggap krusial untuk menentukan arah kebangkitan timnas Italia.
Menurut laporan media Italia, Malago menjadi kandidat terkuat dalam pemilihan ini. Jika terpilih, ia dikabarkan akan segera merestorasi posisi pelatih kepala timnas dengan memanggil kembali Roberto Mancini, yang sebelumnya mengundurkan diri pada 2023. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan stabilitas dan membangun kembali reputasi sepak bola Italia yang sempat meredup.
Bagi Indonesia, dinamika kepemimpinan federasi sepak bola Italia memberikan pelajaran berharga. Regenerasi kepemimpinan yang cepat dan evaluasi dini saat target besar gagal tercapai menjadi kunci untuk mencegah krisis berkepanjangan. PSSI, yang tengah berbenah di bawah kepemimpinan baru, dapat mencontoh transparansi dan akuntabilitas dalam proses suksesi seperti yang dilakukan FIGC.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Abete atau Malago mampu membawa Italia kembali ke jajaran elite sepak bola dunia, atau justru akan terjebak dalam siklus kegagalan yang sama. Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan, terutama saat kualifikasi Piala Dunia 2030 dimulai.



