Milan di Era Baru: Restrukturasi ala Liverpool di Bawah Cardinale
Baca dalam 60 detik
- AC Milan memulai restrukturasi total setelah gagal lolos ke Liga Champions, dengan memecat pelatih dan sejumlah direktur.
- Pemilik Gerry Cardinale menerapkan model organisasi ala Liverpool, menunjuk Ruben Amorim sebagai pelatih dan Hendrik Almstadt sebagai arsitek transfer.
- Langkah ini membawa ambisi besar namun juga risiko tinggi, terutama dalam persaingan ketat Serie A dan tekanan finansial.

AC Milan memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian setelah musim 2025-26 yang mengecewakan. Gagal finis di empat besar Serie A dan absen dari Liga Champions, manajemen klub langsung bergerak cepat dengan memecat pelatih Massimiliano Allegri serta tiga direktur utama. Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemilik klub, Gerry Cardinale, tidak main-main dalam membangun ulang tim.
Restrukturasi yang dilakukan Cardinale mengadopsi pendekatan yang mirip dengan kesuksesan Liverpool di bawah Fenway Sports Group. Ruben Amorim, pelatih muda asal Portugal yang sebelumnya sukses di Sporting CP, ditunjuk sebagai nahkoda baru. Sementara itu, Hendrik Almstadt—figur yang sebelumnya berkecimpung di struktur manajemen Liverpool—diberi peran kunci dalam merancang strategi transfer musim panas. Langkah ini menandai perubahan haluan dari model tradisional Milan yang cenderung mengandalkan figur kuat seperti Paolo Maldini.
Keputusan ini tidak lepas dari tekanan finansial yang dihadapi Milan. Tanpa pendapatan Liga Champions, klub harus pintar-pintar berbelanja pemain dengan anggaran terbatas. Di sinilah peran Almstadt diuji: ia dituntut untuk mendatangkan pemain berkualitas tanpa menguras kas klub. Model Liverpool yang mengandalkan data analytics dan rekrutmen pemain muda potensial diyakini bisa menjadi cetak biru bagi Milan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, langkah Milan ini menarik untuk diikuti. Banyak pemain Indonesia yang mengidolakan klub raksasa Italia ini, dan perubahan besar di San Siro bisa berdampak pada strategi pemasaran klub di Asia. Selain itu, pendekatan ala Liverpool yang mengedepankan efisiensi dan pengembangan pemain muda bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang mulai serius mengelola akademi.
Namun, risiko tetap mengintai. Amorim belum pernah melatih di liga top Eropa, sementara Almstadt harus bekerja cepat di bursa transfer yang kompetitif. Jika gagal, Cardinale bisa menghadapi kritik keras dari suporter yang sudah tidak sabar melihat Milan kembali berjaya. Pertanyaan besarnya: akankah model Liverpool ini membawa Milan kembali ke puncak, atau justru menjadi petualangan yang berakhir dengan kekecewaan?



