Antusiasme Meluap: Pemutaran Tambahan Film Teochew 'Dear You' Ludes Terjual dalam 90 Menit
Baca dalam 60 detik
- Delapan jadwal tambahan film 'Dear You' dalam dialek asli Teochew habis terjual dalam 1,5 jam di Singapura, memicu antrean virtual hingga empat jam.
- Fenomena ini menyoroti kuatnya permintaan penonton terhadap konten berbahasa daerah, yang sebelumnya hanya tersedia dalam versi dubbing Mandarin.
- Kesuksesan ini membuka peluang bagi distributor untuk mempertimbangkan pasar diaspora Tionghoa di Indonesia yang juga memiliki komunitas Teochew besar.

Antrean virtual hingga empat jam dan tiket yang ludes dalam waktu 90 menit—itulah skenario yang terjadi di Singapura saat penjualan tiket pemutaran tambahan film Dear You dalam dialek asli Teochew dibuka pada Senin (22/6). Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya dahaga penonton akan konten yang mempertahankan bahasa ibu, di tengah dominasi dubbing berbahasa Mandarin.
Golden Village, operator bioskop terkemuka di Singapura, mengumumkan penambahan delapan jadwal tayang setelah sebelumnya film tersebut hanya diputar dalam versi sulih suara Mandarin. Keputusan ini diambil menyusul protes dari komunitas Teochew setempat yang menganggap dubbing menghilangkan keaslian dan nuansa budaya film. Pemutaran tambahan itu digelar di GVMax VivoCity, studio berkapasitas 602 kursi, dan langsung diserbu begitu tiket dijual mulai pukul 15.00 waktu setempat.
Dalam hitungan menit, sistem antrean virtual mencatat waktu tunggu hingga empat jam. Banyak pengguna melaporkan kesulitan mengakses situs karena lonjakan trafik yang ekstrem. Hingga pukul 16.30, seluruh tiket untuk delapan sesi tambahan telah habis terjual. Angka ini mengindikasikan bahwa permintaan terhadap konten berbahasa daerah di kawasan Asia Tenggara masih sangat tinggi, terutama di kalangan diaspora Tionghoa yang ingin mempertahankan warisan linguistik mereka.
Keputusan awal Otoritas Pengembangan Media Infokom (IMDA) Singapura untuk hanya mengizinkan versi dubbing Mandarin menuai kritik. Film yang hampir seluruh dialognya menggunakan bahasa Teochew ini dianggap kehilangan esensi jika disulihsuarakan. Tekanan publik akhirnya mendorong Golden Village untuk menyediakan pemutaran versi asli, meski dalam jumlah terbatas. Respons positif ini membuktikan bahwa penonton tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman kultural yang autentik.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki relevansi kuat. Komunitas Teochew merupakan salah satu sub-etnis Tionghoa terbesar di Tanah Air, terutama di wilayah Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Barat. Keberhasilan Dear You di Singapura bisa menjadi katalis bagi distributor film di Indonesia untuk mulai mempertimbangkan penayangan film berbahasa daerah—baik dari Tiongkok maupun lokal—tanpa dubbing. Pasar diaspora Tionghoa di Indonesia, yang jumlahnya mencapai jutaan, jelas memiliki potensi serupa.
Namun, tantangan regulasi tetap ada. Di Indonesia, film asing wajib melalui proses sensor dan sering kali diwajibkan menggunakan subtitle atau dubbing bahasa Indonesia. Belum ada kebijakan khusus yang mengakomodasi bahasa daerah asing. Meski demikian, tren global menunjukkan bahwa penonton semakin menghargai konten orisinal, dan kesuksesan Dear You bisa menjadi preseden bagi perubahan kebijakan di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah distributor film di Indonesia berani mengambil risiko serupa dengan menayangkan film berbahasa daerah tanpa dubbing? Atau justru platform streaming yang akan memanfaatkan celah ini untuk menjangkau audiens spesifik? Yang jelas, antrean empat jam di Singapura adalah sinyal bahwa pasar untuk konten autentik masih sangat lapar.



