Strategi Portofolio Anti Guncangan di Era Suku Bunga Tinggi: Pandangan Sinarmas AM
Baca dalam 60 detik
- Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management menekankan pentingnya portofolio tahan banting di tengah volatilitas pasar dan suku bunga tinggi.
- Investor disarankan tidak hanya fokus pada diversifikasi aset, tetapi juga mempertimbangkan tujuan investasi dan mata uang tujuan.
- Strategi ini menjadi krusial bagi investor Indonesia yang menghadapi tekanan pasar domestik dan global.

Di tengah gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh kebijakan moneter ketat, investor di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menjaga nilai portofolio mereka. Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu, menilai bahwa membangun portofolio yang tahan banting menjadi lebih penting ketimbang sekadar melakukan diversifikasi aset secara tradisional.
Menurut Genta, era suku bunga tinggi yang masih berlanjut membuat pasar sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, manajer investasi dituntut untuk memberikan solusi yang tepat, bukan hanya mengandalkan penyebaran risiko ke berbagai kelas aset. Ia menggarisbawahi tiga hal utama yang harus dipertimbangkan investor: tujuan investasi, jangka waktu, dan mata uang tujuan.
Pernyataan ini disampaikan dalam program Power Lunch CNBC Indonesia pada Senin (22/6/2026). Genta menambahkan bahwa investor perlu lebih selektif dalam memilih instrumen investasi, terutama yang memiliki korelasi rendah terhadap pergerakan suku bunga. Obligasi dengan durasi pendek dan saham sektor defensif menjadi beberapa opsi yang direkomendasikan.
Di Indonesia, tekanan suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih tinggi turut mempengaruhi likuiditas pasar modal. Investor ritel dan institusi lokal pun mulai mengalihkan fokus dari pertumbuhan agresif ke stabilitas. Hal ini tercermin dari meningkatnya minat terhadap reksa dana pasar uang dan obligasi pemerintah jangka pendek.
Genta juga menyoroti pentingnya memperhatikan mata uang tujuan investasi. Bagi investor yang memiliki kewajiban dalam rupiah, alokasi ke aset berdenominasi dolar AS perlu dikelola secara hati-hati mengingat fluktuasi nilai tukar. Sebaliknya, investor dengan eksposur global disarankan melakukan lindung nilai untuk mengurangi risiko.
Pandangan ini relevan bagi investor Indonesia yang mulai khawatir dengan potensi resesi global. Data terbaru menunjukkan perlambatan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, yang berimbas pada permintaan komoditas ekspor Indonesia. Akibatnya, sektor energi dan bahan baku menjadi lebih volatil, sementara sektor kesehatan dan konsumen primer cenderung stabil.
Ke depan, Genta memperkirakan pasar masih akan bergejolak setidaknya hingga akhir tahun. Ia menekankan bahwa disiplin dalam menjalankan strategi investasi dan evaluasi berkala menjadi kunci. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah investor Indonesia siap mengadopsi pendekatan yang lebih konservatif di tengah tekanan suku bunga yang masih tinggi?



