FIGC Memilih Presiden Baru: Dua Nama Berebut Masa Depan Sepak Bola Italia
Baca dalam 60 detik
- Pemilihan presiden FIGC pada Senin ini mempertemukan Giovanni Malago, mantan ketua Komite Olimpiade Italia, dan Giancarlo Abete, yang pernah menjabat pada 2007-2014.
- Kursi kepresidenan kosong setelah kekalahan Italia di play-off Piala Dunia, memicu kekosongan di pos pelatih timnas dan kepala delegasi.
- Hasil pemilihan akan menentukan arah pembenahan sepak bola Italia yang gagal lolos Piala Dunia tiga kali berturut-turut.

Pemilihan presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang digelar Senin ini menjadi titik balik bagi masa depan sepak bola Negeri Pizza. Dua kandidat kuat, Giovanni Malago dan Giancarlo Abete, bersaing memperebutkan 516 suara delegasi untuk memimpin transformasi setelah kegagalan beruntun tim nasional.
Kursi presiden FIGC lowong sejak Gabriele Gravina mengundurkan diri pada Maret lalu, tak lama setelah Italia tersingkir dari play-off Piala Dunia melawan Bosnia dan Herzegovina. Kekalahan itu membuat Italia absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun—sebuah rekor buruk yang memicu krisis kepercayaan di dalam federasi.
Tak hanya Gravina, pelatih timnas Gennaro Gattuso dan kepala delegasi Gianluigi Buffon juga meninggalkan pos mereka. Namun, FIGC belum bisa menunjuk pengganti permanen sebelum presiden baru terpilih. Situasi ini membuat roda organisasi berjalan setengah hati selama beberapa bulan terakhir.
Giovanni Malago, 67 tahun, datang dengan pengalaman memimpin Komite Olimpiade Italia (CONI) dari 2013 hingga 2025. Ia dianggap sebagai kandidat terdepan oleh sejumlah media Italia berkat rekam jejaknya dalam mengelola olahraga nasional. Sementara itu, Giancarlo Abete, 75 tahun, bukanlah wajah baru di FIGC. Ia pernah menjabat presiden pada 2007-2014 dan kini memimpin Liga Amatir Nasional (LND). Abete menawarkan stabilitas dan koneksi kuat dengan klub-klub kecil.
Pertarungan ini tidak hanya soal siapa yang duduk di kursi nomor satu FIGC, tetapi juga arah kebijakan ke depan. Italia membutuhkan reformasi mendasar untuk kembali bersaing di level internasional. Kegagalan lolos Piala Dunia tiga kali berturut-turut menjadi tamparan keras bagi sistem pembinaan pemain dan manajemen federasi.
Pemungutan suara dilakukan secara elektronik dan rahasia di Hotel Cavalieri Waldorf Astoria, Roma. Kedua kandidat dijadwalkan memaparkan program kerja mereka dalam Sidang FIGC sebelum pemungutan suara. Siapa pun yang meraih setengah plus satu suara akan langsung ditetapkan sebagai presiden baru.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika FIGC ini relevan mengingat PSSI juga tengah berbenah setelah serangkaian kegagalan timnas. Model reformasi Italia—dari krisis menuju restrukturisasi—bisa menjadi pelajaran berharga. Pertanyaannya, akankah presiden baru FIGC mampu membawa Italia kembali ke jalur kemenangan, atau justru terjebak dalam politik federasi yang rumit?



