Banjir Parigi Moutong: BNPB Prioritaskan Logistik Dasar bagi 146 Kepala Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Banjir luapan sungai di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, berdampak pada 146 KK dan memaksa 32 KK mengungsi.
- BNPB menyatakan bahan pangan, selimut, dan matras menjadi kebutuhan paling mendesak selama masa tanggap darurat.
- Kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian memperparah dampak, dengan tiga jembatan rusak berat dan 70 hektare sawah terendam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa bantuan logistik dasar menjadi prioritas utama bagi warga yang menjadi korban banjir luapan sungai di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pascahujan deras yang mengguyur wilayah itu pada Sabtu malam, 20 Juni 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa kebutuhan mendesak saat ini meliputi bahan pangan, beras, selimut, serta matras atau tikar untuk mendukung para penyintas selama masa tanggap darurat. "Bantuan logistik dasar ini sangat diperlukan agar warga dapat bertahan di tempat pengungsian," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6/2026).
Banjir yang dipicu hujan berintensitas tinggi sejak pukul 23.00 WITA menyebabkan debit air sejumlah sungai meluap dan merendam sedikitnya enam desa di empat kecamatan: Parigi, Parigi Selatan, Parigi Barat, dan Balinggi. BNPB mencatat sebanyak 146 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara 32 KK di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. "Di Desa Masari ada 70 KK terdampak dan 10 di antaranya mengungsi, dan di Dolago Padang ada 50 KK terdampak," rinci Abdul Muhari.
Kerugian materiil akibat banjir tidak hanya dirasakan oleh sektor permukiman. Banjir juga merendam 166 rumah, dengan dua unit di antaranya mengalami kerusakan ringan. Infrastruktur publik ikut terdampak: tiga jembatan dilaporkan rusak berat, satu saluran air jebol, serta 70 hektare lahan persawahan dan dua hektare perkebunan warga terendam genangan. Kondisi ini mengancam mata pencaharian warga yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
Penanganan darurat kini dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong bersama TNI, Polri, PMI, aparat desa, dan relawan. Tim gabungan terus menyalurkan bantuan serta melakukan evakuasi jika diperlukan. "Kami berkoordinasi dengan semua pihak untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan penanganan berjalan cepat," tambah Abdul Muhari.
Bagi Indonesia, peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah rawan banjir seperti Sulawesi Tengah. Dengan kerusakan infrastruktur yang cukup parah, akses logistik ke daerah terdampak menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan asesmen untuk perbaikan jembatan dan saluran air guna mencegah dampak lebih luas.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendali banjir di Parigi Moutong sudah memadai untuk menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim. Tanpa langkah mitigasi yang serius, risiko bencana serupa akan terus menghantui warga di wilayah ini.



