PSKT Ganti Direksi dan Komisaris, Saham Melonjak 450% dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT) mengubah jajaran direksi dan komisaris melalui RUPS yang dihadiri 82,15% pemegang saham.
- Emiten hotel bujet ini mencatatkan lonjakan saham hingga 450% dalam setahun, kontras dengan pelemahan IHSG.
- Monoloog Hotel, merek utama PSKT, mengelola 1.051 kamar di tujuh kota dengan okupansi tertinggi di Palembang.

PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT), emiten perhotelan yang terafiliasi dengan konglomerat Happy Hapsoro, melakukan perombakan besar-besaran di jajaran direksi dan komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada Senin (22/6/2026). Langkah ini diambil di tengah kinerja saham yang melesat 450% dalam setahun terakhir, jauh melampaui pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru terkoreksi 10% pada periode yang sama.
Dalam RUPS tersebut, pemegang saham yang mewakili 82,15% dari total hak suara menyetujui seluruh agenda, termasuk pengangkatan Eka Sastra sebagai Direktur Utama menggantikan Suwito. Sementara itu, posisi Komisaris Utama kini diisi oleh Albertus Indra Sasmita, yang menggantikan Dinno Indiano. Meski demikian, Dinno Indiano tetap bertahan sebagai anggota dewan komisaris. Susunan direksi lainnya meliputi Shinta Trisna Sutrisno dan Dwi Wirawan sebagai direktur, sementara jajaran komisaris diperkuat oleh Andre Rasjid Prabu Mangkuningrat, Praba Diwangkara Caraka Putra Soma, dan Cindy Budijono.
PT Red Planet Indonesia dikenal sebagai pengelola jaringan hotel bujet di bawah merek Monoloog Hotel. Hingga akhir 2025, perseroan mengoperasikan 1.051 kamar yang tersebar di tujuh kota strategis: Jakarta, Pekanbaru, Palembang, Bekasi, Solo, Surabaya, dan Makassar. Berdasarkan Laporan Tahunan 2025, tiga hotel dengan tingkat okupansi tertinggi adalah Monoloog Palembang (73,13%), Monoloog Jakarta-Pasar Baru (63,18%), dan Monoloog Solo (55,31%). Angka ini menunjukkan bahwa segmen hotel bujet masih memiliki daya tarik di kota-kota dengan aktivitas ekonomi dan wisata yang tinggi.
Lonjakan harga saham PSKT yang mencapai 450% dalam setahun terakhir menjadi sorotan utama di tengah pelemahan IHSG. Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis perhotelan bujet pasca-pandemi, meskipun tekanan ekonomi makro masih membayangi. Bagi investor Indonesia, pergerakan saham PSKT bisa menjadi indikasi bahwa sektor perhotelan kelas menengah ke bawah mulai pulih lebih cepat dibandingkan segmen premium, seiring dengan perubahan pola perjalanan masyarakat yang lebih mengutamakan efisiensi biaya.
Ke depan, tantangan utama PSKT adalah menjaga momentum pertumbuhan di tengah persaingan ketat dari platform akomodasi daring dan hotel-hotel baru yang bermunculan. Dengan struktur manajemen yang baru, apakah PSKT mampu mempertahankan kinerja sahamnya dan meningkatkan okupansi di seluruh properti? Pertanyaan ini akan menjadi ujian bagi tim direksi dan komisaris yang baru ditunjuk.



