Tony Leung Peringatkan Dampak Ganda AI: Hemat Biaya, Hilangkan Jiwa Film
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris Hong Kong Tony Leung menilai kecerdasan buatan (AI) di industri film sebagai pedang bermata dua yang menghemat biaya namun menggerus kreativitas.
- Menurut Leung, AI akan mendorong produksi film komersial massal, sementara film independen berpotensi mendominasi karena tantangan dari media sosial dan gim.
- Leung juga menyoroti pentingnya mengedukasi generasi muda untuk menikmati beragam jenis film, bukan hanya satu pola, demi menjaga keberlangsungan bioskop.

Aktor kawakan Asia, Tony Leung Chiu-wai, menilai kehadiran kecerdasan buatan (AI) di industri perfilman Hollywood bagaikan pedang bermata dua: di satu sisi mampu menekan biaya produksi, namun di sisi lain menggerus esensi kreativitas dan jiwa sebuah karya. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, bintang film In the Mood for Love itu mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak AI yang kian masif di dunia sinema.
Menurut Leung, AI memang mempercepat proses praproduksi dan pascaproduksi, serta menghemat anggaran secara signifikan. Namun, ia menekankan bahwa kemudahan tersebut hanya akan menguntungkan film-film komersial—yang ia sebut sebagai "popcorn movies"—karena prosesnya lebih sederhana dan murah. "Pada saat yang sama, banyak orang kehilangan pekerjaan. Anda tidak perlu berpikir. Tidak ada kreativitas. Itu hanya kalkulasi… tidak ada jiwa," ujar aktor berusia 63 tahun itu.
Leung, yang namanya melambung berkat kolaborasi dengan sutradara Wong Kar-wai dalam film seperti Happy Together dan In the Mood for Love, juga menyoroti tantangan industri film di tengah menjamurnya platform streaming, video pendek, dan gim. Ia memperkirakan produksi skala kecil akan mendominasi pasar karena tekanan dari berbagai bentuk hiburan alternatif tersebut. "Generasi baru belum pernah merasakan pengalaman menonton di bioskop. Kita harus mencari cara untuk mengajak anak-anak muda ini ke bioskop," tegasnya.
Pernyataan Leung ini relevan dengan kondisi industri film di Indonesia, di mana bioskop-bioskop lokal mulai merasakan dampak pergeseran kebiasaan menonton. Maraknya platform over-the-top (OTT) seperti Netflix, Disney+ Hotstar, dan Vidio, serta konten pendek di TikTok dan YouTube, membuat minat penonton terhadap film layar lebar menurun, terutama di kalangan Gen Z. Data Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menunjukkan penurunan jumlah penonton hingga 15 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penggunaan AI dalam produksi film lokal mulai diterapkan, misalnya untuk efek visual dan pengeditan, namun masih terbatas pada rumah produksi besar.
Leung juga menekankan pentingnya pendidikan sinema bagi generasi muda. Menurutnya, penonton perlu diajarkan untuk menikmati berbagai jenis film, bukan hanya satu pola. "Terkadang film tidak memberikan jawaban, dan Anda harus mencari tahu sendiri. Itulah mengapa kita membutuhkan beragam jenis film," katanya. Pandangan ini mengingatkan pada upaya sineas Indonesia seperti Joko Anwar dan sutradara independen lain yang kerap mengadakan diskusi dan pemutaran khusus untuk memperkenalkan film non-arus utama kepada penonton muda.
Mengenai proyek mendatang, Leung mengaku tidak pernah merencanakan secara detail. Ia memilih proyek berdasarkan kedekatan dengan sutradara, bukan genre atau cerita. "Saya harus memiliki perasaan terhadap orang ini, atau mencintai film-film mereka. Saya tidak pernah berencana karena saya tidak ingin mengendalikan sesuatu yang di luar kendali. Hidup tidak akan berjalan sesuai keinginan Anda," ujarnya. Sikap ini mencerminkan pendekatan artistik yang jarang ditemui di era industri yang serba terukur. Pertanyaan besarnya: mampukah industri film global, termasuk Indonesia, mempertahankan jiwa kreatif di tengah gempuran efisiensi AI?



