MSCI 2026: Pasar Modal Indonesia Ungguli India dan Korea, Ancaman Downgrade Mereda
Baca dalam 60 detik
- Indonesia meraih 10 dari 18 kriteria penilaian MSCI dengan nilai tertinggi, mengungguli India, Korea, Taiwan, dan Thailand dalam aksesibilitas pasar.
- Satu-satunya indikator yang melemah adalah Information Flow, namun regulator dan SRO telah merespons dengan agenda reformasi pasar modal.
- Peluang Indonesia turun ke status Frontier Market dinilai sangat kecil; skenario paling realistis adalah tetap di Emerging Market dengan pencabutan interim freeze.

Laporan terbaru MSCI Accessibility Review 2026 menempatkan Indonesia di posisi yang lebih kompetitif dibandingkan sejumlah negara berkembang utama seperti India, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Dari 18 kriteria yang dinilai, Indonesia berhasil mengantongi 10 nilai "++" (tertinggi), enam nilai "+", dan hanya dua nilai "-", menjadikannya salah satu pasar dengan aksesibilitas terkuat di kawasan.
Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai capaian ini menempatkan Indonesia di bawah Hong Kong dan Malaysia, tetapi masih jauh di atas negara-negara tetangga. "Indonesia lebih unggul dari India, Korea, Filipina, Taiwan, dan Thailand. Bahkan jika dibandingkan dengan Vietnam yang berpotensi naik ke Emerging Market, Indonesia jauh lebih baikโVietnam hanya memiliki enam kriteria '++'," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).
Meski secara keseluruhan positif, terdapat satu catatan yang perlu diwaspadai: indikator Information Flow turun dari "+" menjadi "-". Namun, Hans optimistis penurunan ini bersifat sementara. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) telah merespons dengan mempercepat agenda reformasi pasar modal, sehingga indikator tersebut berpeluang kembali membaik pada penilaian berikutnya.
Perbandingan dengan negara lain menunjukkan keunggulan Indonesia pada aspek kepemilikan asing. Pada indikator Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia memperoleh nilai "++", lebih tinggi dari Hong Kong dan India yang hanya mendapat "-". Hal ini mencerminkan keterbukaan pasar modal Indonesia yang relatif longgar bagi investor asing.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyambut baik hasil review tersebut. "Kami mengapresiasi laporan MSCI. Perbaikan akan terus dilakukan, dan kami yakin ke depan akan lebih baik," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta. Ia menambahkan bahwa BEI akan terus berkomunikasi dengan MSCI untuk mengklarifikasi sejumlah poin, termasuk ketersediaan informasi dalam bahasa Inggris yang menjadi catatan.
Kekhawatiran akan penurunan status Indonesia dari Emerging Market (EM) ke Frontier Market (FM) pada pengumuman 23 Juni 2026 dinilai berlebihan. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menegaskan tidak ada alasan fundamental bagi MSCI untuk menurunkan klasifikasi Indonesia. "Dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik, meskipun risiko meningkat, Indonesia masih layak berada di EM," katanya.
Hans Kwee menambahkan, Indonesia memiliki 11 saham yang memenuhi persyaratan ukuran dan likuiditas MSCI, jauh di atas ambang minimum satu saham. "Melihat hal ini, Indonesia tidak mungkin turun ke Frontier Market. Skenario paling mungkin adalah tetap di EM dengan pencabutan interim freeze," tuturnya. Interim freeze saat ini menunda masuknya sejumlah saham Indonesia ke indeks MSCI, dan pencabutannya akan membuka peluang penambahan saham baru.
Bagi investor di Indonesia, hasil review ini memberikan sinyal positif bahwa pasar modal domestik tetap atraktif di mata internasional. Namun, tantangan masih ada, terutama pada aspek transparansi informasi. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat OJK dan BEI dapat menyelesaikan agenda reformasi untuk mempertahankan momentum positif ini.



