Jepang Andalkan Sopir Asing untuk Selamatkan Logistik dari Krisis Tenaga Kerja
Baca dalam 60 detik
- Jepang mulai merekrut sopir truk asal Vietnam melalui program SSW untuk mengatasi kekurangan pengemudi akibat populasi menua.
- Yamato Holdings dan SBS Holdings berencana mempekerjakan ribuan sopir asing dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
- Pemerintah dan swasta menguji sistem Autoflow Road dan truk otonom Level 4 sebagai solusi jangka panjang.

Di tengah hiruk-pikuk pelatihan di pangkalan logistik Nakano Shokai, Atsugi, tiga pria asal Vietnam berusia 20–30-an tengah berlatih menjadi sopir truk. Mereka adalah bagian dari gelombang baru tenaga kerja asing yang diandalkan Jepang untuk menjaga kelancaran distribusi barang di tengah krisis demografi yang mengancam sektor transportasi.
Ketiga pria itu tiba di Jepang pada akhir Januari lalu dengan status visa Specified Skilled Worker (SSW) selama lima tahun. Mereka telah mengantongi SIM Jepang dan kini mempelajari peraturan lalu lintas setempat. Rencananya, pada akhir 2026 mereka akan mulai bertugas mengemudikan truk ukuran sedang di wilayah Kanto. Nakano Shokai, anak perusahaan Yamato Holdings—induk dari raksasa kurir Yamato Transport—mempekerjakan sekitar 700 sopir. Meski saat ini tidak kekurangan pengemudi, direktur pelaksana Yusuke Takada tetap merasa waswas. “Jika kami tidak mempekerjakan sopir asing, kapasitas transportasi kami pasti akan menurun di masa depan,” ujarnya.
Fenomena perekrutan sopir asing kian meluas di industri logistik Jepang. Mulai 2027, Yamato Holdings berencana merekrut hingga 500 sopir asal Vietnam dalam lima tahun. SBS Holdings, perusahaan logistik besar lainnya, menargetkan 30 persen dari total sopirnya—sekitar 1.800 orang—berasal dari tenaga kerja asing dalam satu dekade. Langkah ini didorong oleh proyeksi penurunan jumlah pengemudi akibat populasi yang menua dan rendahnya angka kelahiran.
Data Survei Tenaga Kerja Kementerian Dalam Negeri Jepang menunjukkan jumlah sopir angkutan barang tetap stagnan, namun proporsi sopir berusia 50 tahun ke atas terus meningkat hingga 47 persen pada 2025. Sementara itu, sopir remaja hanya 1 persen dan usia 20-an hanya 10 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kekurangan sopir akan semakin parah seiring pensiunnya tenaga kerja senior.
Di sisi lain, volume paket terus melonjak seiring pertumbuhan belanja daring. Pada tahun fiskal 2024, jumlah paket mencapai 5,03 miliar, dan diperkirakan akan menembus 6 miliar pada 2030. Seorang sumber industri mengungkapkan, jika termasuk paket dari jaringan pengiriman milik pengecer daring, angkanya sudah melampaui 6 miliar. Beban operasional pun kian terasa. Desember lalu, Yamato Transport dan Sagawa Express mengalami keterlambatan pengiriman karena kewalahan menangani lonjakan paket akhir tahun.
Logistik merupakan infrastruktur vital bagi perekonomian Jepang. Untuk mengantisipasi krisis, pemerintah pusat bersama lebih dari 100 perusahaan membentuk dewan yang mengkaji konsep Autoflow Road—sistem pengangkutan paket kecil menggunakan kereta di jalur khusus jalan tol atau bawah tanah selama 24 jam. Uji coba akan dimulai di sebagian ruas Shin-Tomei Expressway pada fiskal 2027. Selain itu, industri juga menaruh harapan pada teknologi truk otonom. Sejak Maret 2025, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata bersama Central Nippon Expressway menggelar uji coba di ruas yang sama di Shizuoka pada malam hari untuk mencapai Level 4—kendaraan sepenuhnya tanpa pengemudi.
Jun Oishi, konsultan senior Nomura Research Institute yang mengkhususkan diri pada logistik, mengingatkan bahwa “pengiriman cepat kapan saja bukanlah hal yang wajar.” Menurutnya, untuk mempertahankan kenyamanan logistik, diperlukan upaya tidak hanya dari perusahaan logistik, tetapi juga pengirim barang dan konsumen.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin. Dengan bonus demografi yang masih berlangsung, Indonesia justru berpotensi menjadi pemasok tenaga kerja logistik seperti Vietnam. Namun, tanpa perbaikan regulasi dan pelatihan, peluang itu bisa terlewat. Ke depan, kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam adopsi teknologi otonom serta sistem pengiriman inovatif seperti Autoflow Road patut dicermati sebagai model antisipasi krisis logistik di negara berkembang.



