Kebocoran Amonia di Pabrik Seafood India Tewaskan Enam Pekerja Migran
Baca dalam 60 detik
- Enam pekerja tewas dan puluhan dirawat usai menghirup gas amonia yang bocor dari unit pendingin pabrik ekspor makanan laut di Tamil Nadu, India.
- Sebagian besar korban adalah pekerja migran dari Assam, Odisha, dan Jharkhand; beberapa mengalami pendarahan dari mulut dan hidung akibat paparan gas.
- Pemerintah Tamil Nadu membentuk tim investigasi tiga orang untuk meneliti kepatuhan terhadap standar keselamatan industri dalam tempo 24 jam.

Sedikitnya enam orang tewas dan puluhan lainnya dilarikan ke rumah sakit setelah diduga terjadi kebocoran gas amonia di sebuah pabrik pengolahan makanan laut untuk ekspor di Distrik Thiruvallur, Tamil Nadu, India, pada Minggu (21/6). Insiden ini menyoroti kembali kerentanan pekerja migran di sektor industri padat karya yang kerap beroperasi dengan standar keselamatan minim.
Pabrik yang berlokasi di dekat desa Periyapalayam itu mempekerjakan sekitar 120 buruh migran, termasuk perempuan, yang sebagian besar berasal dari negara bagian Assam, Odisha, dan Jharkhand. Menurut keterangan otoritas setempat, kebocoran diduga berasal dari sistem pendingin atau pengolahan di dalam pabrik, lalu menyebar cepat ke sejumlah area fasilitas.
Para pekerja yang terpapar gas mulai mengalami sesak napas parah, pusing, dan iritasi. Beberapa dilaporkan mengalami pendarahan dari mulut dan hidung, menandakan tingginya konsentrasi gas yang terhirup. Kepanikan melanda lokasi saat pekerja berhamburan keluar menyelamatkan diri, sementara yang lain pingsan setelah menghirup gas beracun tersebut.
Tim tanggap darurat, personel kepolisian, dan pejabat setempat tiba di tempat kejadian dan melancarkan operasi penyelamatan. Para korban dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif, dan beberapa di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis.
Kepala Menteri Tamil Nadu, C. Joseph Vijay, menyatakan keprihatinan atas insiden ini dan memerintahkan pejabat untuk memberikan bantuan medis penuh kepada para pekerja yang terdampak. Ia juga menginstruksikan pembentukan komite investigasi tiga anggota untuk menyelidiki penyebab kebocoran. Komite diminta melakukan inspeksi segera dan menyerahkan laporan terperinci dalam waktu 24 jam.
Investigasi diperkirakan akan meneliti protokol keselamatan, prosedur perawatan, dan kemungkinan kelalaian di pabrik tersebut. Polisi telah mencatat kasus ini dan penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung. Otoritas juga menilai apakah pelanggaran terhadap regulasi keselamatan industri turut berkontribusi terhadap bencana ini.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap pabrik pengolahan makanan, terutama yang menggunakan amonia sebagai refrigeran. Di dalam negeri, sektor pengolahan ikan dan makanan laut juga banyak mempekerjakan buruh migran dari berbagai daerah dengan tingkat perlindungan keselamatan yang beragam. Kasus serupa pernah terjadi di beberapa pabrik di Jawa Timur dan Sulawesi Utara, meskipun dengan skala korban yang lebih kecil.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: sejauh mana kepatuhan perusahaan terhadap standar operasional keselamatan, dan bagaimana pemerintah daerah memastikan inspeksi rutin berjalan efektif? Tanpa pengawasan yang konsisten, risiko kebocoran gas beracun akan terus mengancam nyawa pekerja di sektor industri pengolahan.



