Hamzah Zainudin Pimpin Parti Wawasan Negara, Eksodus Bekas Petinggi Bersatu Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Mantan Wakil Presiden Bersatu yang dipecat, Hamzah Zainudin, resmi menjabat Presiden Parti Wawasan Negara (Wawasan) yang baru didaftarkan.
- Susunan pengurus inti diisi oleh sejumlah tokoh politik senior dan mantan menteri, menandai konsolidasi kekuatan politik alternatif di Malaysia.
- Partai ini muncul sebagai wadah baru bagi politisi yang hengkang dari Bersatu, berpotensi mengubah peta persaingan politik menjelang pemilu mendatang.

Parti Wawasan Negara (Wawasan) secara resmi mengumumkan susunan kepemimpinan pertamanya, dengan menempatkan Datuk Seri Hamzah Zainudin—mantan Wakil Presiden Bersatu yang dipecat—sebagai presiden. Langkah ini menegaskan bahwa partai baru tersebut menjadi magnet bagi politisi yang tersingkir dari partai pimpinan Muhyiddin Yassin, sekaligus menandai babak baru dalam politik Malaysia pasca-pemecatan massal.
Dalam struktur yang diumumkan Minggu lalu, tokoh veteran Tan Sri Dr Rais Yatim dipercaya menjabat ketua dewan pimpinan pusat. Rais, yang pernah menjabat menteri di berbagai kabinet, membawa pengalaman panjang dalam pemerintahan. Sementara itu, posisi wakil presiden diisi oleh Datuk Tan Lek Khang, mantan ketua Bersatu cabang Johor. Lima kursi wakil presiden diberikan kepada Tan Sri Abdul Rahim Thamby Chik, Datuk Wan Saiful Wan Jan, Datuk Leong Kim Soon, Datuk Mohd Omar Mustapha, dan Datuk Huan Cheng Guan—yang terakhir adalah mantan presiden Parti Cinta Malaysia.
Jabatan sekretaris jenderal dipegang oleh Datuk Seri Saifuddin Abdullah, anggota parlemen Indera Mahkota yang juga dipecat dari Bersatu. Sementara itu, posisi bendahara umum diisi Datuk Arifin Tobias. Kepala informasi partai dijabat oleh Wan Ahmad Fayhsal Wan Ahmad Kamal, anggota parlemen Machang yang sebelumnya menjabat ketua sayap pemuda Bersatu sebelum diusir. Susunan ini dilengkapi 25 anggota komite pusat, termasuk sejumlah nama seperti Prof Emeritus Tan Sri Dr Ibrahim Shah Abu Shah dan Datuk Simon Suresh V Varunamegam.
Kelahiran Wawasan tidak lepas dari dinamika internal Bersatu. Hamzah dipecat dari partai tersebut pada Februari lalu, dan segera mengumumkan pembentukan partai baru dalam Konvensi Reset di Tanah Merah, Kelantan, pada 13 Juni. Langkah ini diikuti oleh sejumlah tokoh yang juga dipecat atau mengundurkan diri, menciptakan gelombang eksodus yang memperlemah basis Bersatu di beberapa daerah. Menurut analis politik Malaysia, Wawasan berpotensi menjadi kendaraan bagi oposisi yang ingin menjauh dari pengaruh Perikatan Nasional namun tetap berada di blok oposisi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik diamati karena Malaysia kerap menjadi barometer dinamika politik di kawasan. Fragmentasi partai politik di negara tetangga dapat mempengaruhi stabilitas kebijakan bilateral, terutama di bidang perdagangan dan ketenagakerjaan. Selain itu, munculnya partai baru berbasis tokoh nasionalis-melayu seperti Rais Yatim dan Hamzah Zainudin bisa mengubah peta koalisi menjelang pemilu, yang pada gilirannya berdampak pada hubungan Indonesia-Malaysia di forum regional.
Pertanyaan besar kini mengemuka: akankah Wawasan mampu bertahan sebagai partai oposisi yang solid, atau justru akan mengalami nasib serupa partai baru lain yang gagal menembus dominasi koalisi besar? Dengan pengalaman para pengurusnya, partai ini setidaknya memiliki modal awal yang tidak bisa dianggap remeh.



