Perayaan Hiroshima ke-81: Takaichi Hindari Janji Tegas Pertahankan Prinsip Nonnuklir Jepang
Baca dalam 60 detik
- PM Jepang Sanae Takaichi tidak secara eksplisit berkomitmen mempertahankan prinsip nonnuklir dalam pidato peringatan bom atom Hiroshima.
- Pernyataan tersebut muncul di tengah rencana revisi dokumen keamanan nasional Jepang yang berpotensi mengubah kebijakan nuklir negara itu.
- Langkah ini memicu kekhawatiran di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, mengenai arah kebijakan pertahanan Jepang di masa depan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk pertama kalinya menghadiri upacara peringatan 81 tahun bom atom Hiroshima, Kamis (6/8), namun gagal memberikan komitmen tegas untuk mempertahankan prinsip nonnuklir yang selama ini dijunjung tinggi negaranya. Dalam konferensi pers setelah upacara, ia hanya menyatakan pemerintah "tetap berpegang" pada kebijakan lama tersebut, tanpa mengucapkan janji eksplisit seperti para pendahulunya.
Kelonggaran sikap ini muncul di tengah kabar bahwa pemerintahnya sedang mempertimbangkan untuk meninjau kembali tiga prinsip nonnuklir—tidak memiliki, tidak memproduksi, dan tidak mengizinkan senjata nuklir di wilayah Jepang—sebagai bagian dari revisi dokumen keamanan nasional yang ditargetkan rampung sebelum akhir tahun. Takaichi beralasan bahwa pembahasan masih berlangsung dan belum waktunya mengomentari formulasi final.
"Masih prematur untuk berkomentar mengenai bentuk akhir kata-kata karena kami masih dalam proses revisi dokumen sebelum akhir tahun," ujarnya kepada wartawan. Namun, ia menegaskan bahwa "tidak berubah bahwa Jepang dengan teguh menjunjung tiga prinsip nonnuklir dalam arah kebijakannya." Pernyataan yang berbelit-belit ini kontras dengan pidato tegas para perdana menteri sebelumnya, seperti Shigeru Ishiba dan Fumio Kishida, yang secara gamblang menyatakan komitmen mempertahankan prinsip tersebut dalam peringatan tahunan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
Menariknya, sikap Takaichi mengingatkan pada langkah mendiang Shinzo Abe, mentor politiknya, yang pada 2015 juga menghindari menyebut prinsip nonnuklir dalam pidatonya. Ini menimbulkan spekulasi bahwa Jepang di bawah kepemimpinan Takaichi mungkin sedang bergeser ke arah kebijakan yang lebih pragmatis, terutama di tengah meningkatnya tekanan keamanan dari China dan Korea Utara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai negara yang aktif memperjuangkan denuklirisasi di forum internasional, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas kawasan. Jika Jepang melonggarkan prinsip nonnuklirnya, hal itu dapat memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata di Asia Timur dan berdampak pada arsitektur keamanan regional. Sebelumnya, Jepang menjadi salah satu pendukung utama rezim nonproliferasi, dan perubahan sikapnya akan menjadi sinyal yang kurang baik bagi upaya global menuju dunia tanpa senjata nuklir.
Para pengamat menilai bahwa pernyataan Takaichi yang ambigu merupakan strategi untuk menjaga fleksibilitas dalam negosiasi revisi dokumen keamanan. Namun, di sisi lain, ia juga harus menghadapi tekanan domestik dari para penyintas bom atom (hibakusha) yang menginginkan komitmen kuat terhadap prinsip nonnuklir. Kelompok penyintas telah lama menjadi suara moral yang mendorong pemerintah Jepang untuk konsisten dalam sikap anti-nuklir.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Takaichi akan tetap mempertahankan prinsip nonnuklir dalam dokumen final atau justru mengubahnya menjadi kebijakan yang lebih longgar. Keputusan ini tidak hanya akan menentukan arah kebijakan pertahanan Jepang, tetapi juga mempengaruhi dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia, bersama negara-negara ASEAN lainnya, tentu akan mengawasi perkembangan ini dengan saksama.



