Tottenham Bidik Bilal El Khannouss: Kuda Hitam Lebih Menjanjikan daripada Gakpo
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur dikabarkan akan mengajukan tawaran awal senilai €30 juta untuk playmaker Stuttgart, Bilal El Khannouss, dalam upaya mengalahkan Newcastle United dan Crystal Palace.
- El Khannouss, yang tampil impresif bersama Maroko di Piala Dunia 2026, dinilai sebagai investasi jangka panjang yang lebih baik dibanding Cody Gakpo yang sudah berusia 27 tahun.
- Kesepakatan ini bisa menjadi sinyal perubahan strategi Spurs yang selama ini fokus pada pemain berpengalaman Liga Inggris, menuju perburuan bakat muda Eropa.

Tottenham Hotspur dikabarkan siap mengajukan tawaran perdana senilai €30 juta (sekitar £26 juta) untuk mengamankan jasa gelandang serang VfB Stuttgart, Bilal El Khannouss. Langkah ini muncul di tengah upaya klub London Utara tersebut untuk menambah daya gedor di bawah arahan manajer anyar, Roberto De Zerbi, yang sebelumnya lebih banyak melirik pemain berpengalaman Liga Inggris.
Menurut laporan media Jerman, Fussballdaten, Spurs telah melakukan pembicaraan awal dengan perwakilan pemain dan pihak Stuttgart untuk menjajaki kemungkinan transfer. Namun, Stuttgart diperkirakan mematok harga lebih tinggi, sekitar €50 juta (£43 juta), mengingat kontribusi signifikan El Khannouss di Bundesliga musim lalu. Jika terealisasi, pemain berusia 22 tahun ini bisa menjadi rekrutan termahal Spurs pada bursa musim panas ini, melampaui nilai transfer Cody Gakpo yang menjadi target utama sebelumnya.
Ketertarikan Spurs pada El Khannouss menarik karena selama ini De Zerbi cenderung memilih pemain yang sudah terbukti di Premier League, seperti Gakpo dari Liverpool. Namun, dengan usia Gakpo yang sudah 27 tahun, El Khannouss dinilai sebagai investasi jangka panjang yang lebih menjanjikan. Mantan pemain Leicester City ini tampil gemilang bersama Maroko di Piala Dunia 2026, menjadi starter di semua enam pertandingan, dengan rata-rata 1,2 umpan kunci dan dribel sukses per laga.
Perbandingan statistik menunjukkan keunggulan El Khannouss dalam hal kreativitas. Meski Gakpo lebih unggul dalam hal gol (tiga gol di Piala Dunia), El Khannouss unggul dalam umpan kunci dan dribel. Di musim pertamanya di Stuttgart, ia mencatatkan sembilan gol dan assist, menciptakan delapan peluang emas, dan rata-rata 1,8 umpan kunci per pertandingan. Sebelumnya, di Leicester yang terdegradasi, ia juga mencatatkan lima gol dan assist di Premier League.
Mantan pelatihnya di Genk, Thorsten Fink, menyebut El Khannouss sebagai talenta "sangat istimewa" yang bisa "menjadi salah satu pesepak bola terbaik di Eropa". Analis dan pencari bakat Como, Ben Mattinson, juga memujinya sebagai "salah satu kreator terbaik untuk masa depan sepak bola modern". Pujian semacam itu menegaskan potensi besar pemain yang bisa menjadi motor serangan Spurs untuk bertahun-tahun.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perburuan El Khannouss menjadi menarik karena menunjukkan pergeseran strategi klub-klub Premier League dalam merekrut pemain muda berbakat dari liga-liga Eropa lainnya. Jika Spurs berhasil mengamankan tanda tangannya, ini bisa menjadi sinyal bahwa klub-klub besar Inggris mulai berani mengambil risiko pada pemain yang belum terbukti di liga mereka, sebuah tren yang juga bisa berdampak pada pasar transfer pemain Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kerap menjadi incaran klub-klub Eropa.
Dengan persaingan ketat dari Newcastle United dan Crystal Palace, Spurs harus bergerak cepat. Pertanyaannya, akankah De Zerbi bersedia mengubah kebijakan transfernya demi mengamankan talenta muda yang bisa menjadi bintang masa depan? Atau justru Gakpo yang tetap menjadi prioritas utama? Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah strategi Spurs di bursa transfer kali ini.



