Nikkei Cetak Rekor Lagi: Saham Teknologi dan Yen Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dibuka menguat 0,63% ke level 71.696,14 pada Senin pagi, didorong saham teknologi dan sektor logam nonbesi, baja, serta keramik.
- Penguatan terjadi setelah Nikkei menutup perdagangan Jumat lalu di rekor tertinggi sepanjang masa, dengan dukungan dari pelemahan yen terhadap dolar AS.
- Pasar AS libur pada Jumat, sehingga sentimen global lebih bergantung pada data domestik Jepang dan pergerakan mata uang.

Bursa Tokyo memulai pekan ini dengan catatan positif, di mana indeks Nikkei kembali menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi pembukaan Senin (22/6). Penguatan ini dipicu oleh aksi beli di sektor teknologi yang masih menjadi primadona, serta didukung oleh pelemahan yen yang menguntungkan eksportir Jepang.
Dalam 15 menit pertama perdagangan, Nikkei Stock Average melesat 446,08 poin atau 0,63 persen ke level 71.696,14, melampaui rekor penutupan Jumat lalu. Indeks Topix yang lebih luas juga naik 22,95 poin atau 0,57 persen ke 4.067,91. Sektor-sektor yang memimpin kenaikan antara lain logam nonbesi, besi dan baja, serta produk kaca dan keramik.
Kenaikan ini tak lepas dari sentimen eksternal, terutama pergerakan nilai tukar yen yang terus melemah terhadap dolar AS. Pada pukul 09.00 waktu Tokyo, dolar AS diperdagangkan di kisaran 161,44-45 yen, lebih tinggi dibandingkan posisi 161,31-33 yen pada Jumat sore. Pelemahan yen menjadi angin segar bagi perusahaan-perusahaan Jepang yang mengandalkan ekspor, karena meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global.
Di sisi lain, pasar keuangan Amerika Serikat tutup pada Jumat lalu karena hari libur nasional, sehingga tidak ada patokan dari Wall Street. Kondisi ini membuat pelaku pasar di Tokyo lebih fokus pada faktor domestik dan pergerakan mata uang. Para analis menilai bahwa momentum penguatan Nikkei masih akan berlanjut selama yen tidak menguat signifikan dan data ekonomi Jepang tetap solid.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Tokyo memiliki relevansi tersendiri. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan kenaikan indeks Nikkei sering kali mencerminkan optimisme terhadap ekonomi Asia. Selain itu, pelemahan yen dapat berdampak pada persaingan ekspor produk Indonesia ke pasar global, terutama di sektor manufaktur dan otomotif. Namun, di sisi lain, penguatan dolar AS juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah jika tren ini berlanjut.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi Jepang dan kebijakan Bank of Japan (BOJ) terkait suku bunga. Jika BOJ tetap mempertahankan kebijakan longgar, yen berpotensi terus melemah, yang bisa mendorong Nikkei lebih tinggi lagi. Sebaliknya, jika ada sinyal pengetatan, koreksi bisa terjadi. Pertanyaannya, sejauh mana reli ini bisa bertahan di tengah ketidakpastian global?



