Wyndham Clark Buktikan Diri di US Open: Juara Setelah Setahun Penuh Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Wyndham Clark memenangkan US Open 2025 dengan keunggulan tipis, meskipun sempat kehilangan enam pukulan di babak final.
- Kemenangan ini menjadi penebusan setelah insiden perusakan loker di tahun sebelumnya yang membuatnya menjalani terapi pengendalian amarah.
- Clark menjadi juara wire-to-wire pertama sejak 2014, mengalahkan Sam Burns dan Scottie Scheffler di Shinnecock Hills.

Wyndham Clark akhirnya mengangkat trofi US Open untuk kedua kalinya, Minggu (15/6), setelah melalui putaran final yang penuh drama di Shinnecock Hills, New York. Namun, perjalanannya menuju gelar itu tidak semulus yang dibayangkan. Keunggulan enam pukulan yang ia bangun selama tiga hari pertama nyaris lenyap dalam beberapa jam, sebelum ia menyelamatkan diri dengan putt krusial di hole ke-16.
Pemain Amerika Serikat berusia 31 tahun itu memulai hari sebagai favorit mutlak. Namun, tujuh hole pertama putaran keempat mengubah segalanya. Keunggulannya menyusut menjadi satu pukulan saja setelah Sam Burns, yang memulai hari tujuh pukulan di belakang, terus menekan. Burns akhirnya mencatat skor 67, tiga di bawah par, tetapi tidak mampu menyalip Clark.
Momen penentu datang di hole ke-16, ketika Clark melakukan putt birdie sepanjang 25 kaki. Itu adalah birdie pertamanya di putaran final setelah berjuang sepanjang hari. "Yang pertama adalah terobosan, yang ini adalah penebusan," ujar Clark seusai pertandingan. Ia mengakui tahun lalu sangat berat baginya, setelah ia meninggalkan Oakmont dalam kekacauan akibat insiden perusakan loker.
Insiden itu membuat Clark dilarang masuk ke klub Pennsylvania hingga ia menjalani terapi pengendalian amarah dan membayar perbaikan loker. Meski kemenangan ini tidak sepenuhnya menghapus kenangan buruk tersebut, setidaknya ia membuktikan bahwa dirinya telah berubah. "Saya sangat menyesal. Saya harap suatu hari kalian bisa menerima saya," katanya kepada para penggemar yang sebagian besar mendukung Scottie Scheffler.
Scheffler, yang merayakan ulang tahun ke-30, gagal memberikan perlawanan berarti. Ia hanya mampu mencatat skor 71, satu di atas par, dan finis empat pukulan di belakang Clark. Ini menjadi peluang yang terlewatkan bagi pemain nomor satu dunia itu untuk melengkapi Grand Slam kariernya. Sementara itu, Burns yang memimpin setelah 54 hole tahun lalu, kembali harus puas sebagai runner-up.
United States Golf Association (USGA) patut dipuji karena menyiapkan tata letak lapangan yang menantang namun tetap fair. Setelah dikritik karena "kehilangan kendali lapangan" di edisi sebelumnya, USGA memastikan Shinnecock Hills tetap playable sepanjang pekan. Hasilnya, 17 pemain berhasil menembus skor di bawah 70 pada hari Minggu, menandakan bahwa tantangan tidak berlebihan.
Bagi Indonesia, kemenangan Clark mungkin tidak langsung relevan, tetapi menunjukkan bagaimana seorang atlet bisa bangkit dari keterpurukan. Di tengah sorotan publik yang kerap menghakimi, Clark membuktikan bahwa perubahan adalah mungkin. Pertanyaan besarnya: akankah ia mampu mempertahankan konsistensi ini di masa depan, atau justru kembali terjerumus dalam kontroversi?



