Adopsi Bayi Ilegal Mengintai: Warga Singapura Hampir Jadi Korban Trafficking
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan di Malaysia menyerahkan bayi kepada pasangan Singapura di restoran cepat saji tanpa dokumen, memicu kekhawatiran keterlibatan dalam jaringan perdagangan bayi.
- Pengadilan Indonesia mengungkap sindikat yang menjual 34 bayi ke Singapura dengan harga hingga S$21.600 per anak, melibatkan agen lokal.
- Otoritas Singapura memperketat pengawasan dokumen adopsi, namun celah masih dimanfaatkan agen nakal yang mengabaikan prosedur resmi.

Seorang perempuan tanpa identitas jelas menyerahkan bayi yang baru lahir kepada pasangan suami istri asal Singapura di sebuah restoran cepat saji di Johor Bahru, Malaysia, dan memerintahkan mereka untuk segera membawa pulang anak itu tanpa secarik pun dokumen. Peristiwa Juli lalu itu menjadi titik terang betapa rentannya calon orang tua adopsi terhadap praktik ilegal yang berujung pada perdagangan manusia.
Pasangan yang diwawancarai CNA dengan nama samaran Sarah dan Adam mengaku sempat terbuai saat melihat bayi tersebut, namun naluri mereka segera berbicara. “Kami seperti ditarik ke dalam perdagangan manusia tanpa sadar,” ujar Adam. Mereka menolak membawa bayi itu dan segera meninggalkan lokasi. Belakangan, mereka mengetahui bahwa kasus mereka memiliki kemiripan dengan sindikat perdagangan bayi yang tengah disidang di Indonesia.
Pengadilan Indonesia mengungkap bahwa Lie Siu Luan, alias Lily, 70 tahun, mengaku sebagai otak jaringan yang menjual sedikitnya 34 bayi antara 2022 dan 2025. Dalam persidangan 26 Mei, Lily menyebut empat orang di Singapura—dengan nama samaran John, Petter, Mr Tan, dan Mr Chew—sebagai agen adopsi yang memiliki klien tetap. Bayi-bayi itu dijual dengan harga berkisar S$17.000 hingga S$21.600 per anak. Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga (MSF) serta Kementerian Dalam Negeri Singapura menyatakan tengah bekerja sama dengan otoritas Indonesia untuk meninjau tuduhan tersebut.
Di tengah kasus ini, dua pasangan lain menceritakan pengalaman pahit mereka. Nick dan Gwen, misalnya, harus merelakan bayi asal Vietnam yang hampir mereka adopsi setelah ibu kandungnya menghilang tanpa jejak. Mereka juga kehilangan kesempatan kedua saat adopsi bayi dari Pontianak, Indonesia, batal seminggu sebelum kedatangan sang bayi, dengan alasan Indonesia tidak mengizinkan adopsi. “Kami sudah menyiapkan kamar dan namanya,” kata Nick pilu. Pasangan ini mengaku merasa seperti “meloncat-loncat melewati rintangan” tanpa kepastian.
Menurut pengacara keluarga Shaun Ho dari Withers KhattarWong, agen resmi MSF menjalani pengujian ketat, tetapi agen lain mungkin tidak serigat itu. “Mereka bisa menyerahkan anak dengan lebih sedikit hambatan,” katanya. Sandra Ong, direktur GJC Law, menambahkan bahwa tanda bahaya meliputi agen yang tidak diatur, informasi latar belakang anak yang tidak lengkap, dan upaya memotong prosedur wajib seperti Adoption Suitability Assessment (ASA). “Jika ada saran untuk mempercepat adopsi dengan jalan pintas, itu harus menimbulkan kecurigaan serius,” ujarnya.
Bagi calon orang tua di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa adopsi lintas negara—khususnya dari Malaysia atau Indonesia—memerlukan kewaspadaan ekstra. Meskipun Singapura telah memperketat aturan melalui Adoption of Children Act 2022 yang mengkriminalisasi praktik tidak layak seperti pemalsuan dokumen dan pembayaran tidak sah, celah masih ada. MSF mengakui bahwa mereka meninjau dokumen untuk mencari ketidakberesan, namun pemalsuan akta kelahiran dari negara dengan tingkat korupsi tinggi sulit dideteksi. “Jangan percaya sepenuhnya pada agen. Lakukan riset sendiri, bicara dengan otoritas, dokter, dan pengacara,” imbau Ho.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah kasus-kasus ini mendorong Singapura dan negara tetangga untuk membentuk mekanisme verifikasi bersama yang lebih ketat? Atau justru akan semakin banyak pasangan yang putus asa dan terjebak dalam jaring sindikat karena minimnya pasokan bayi adopsi yang sah? Yang jelas, bagi Sarah dan Adam, pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam. “Saya bertanya pada diri sendiri apakah saya jadi kaki tangan,” kata Adam. “Itulah yang terasa, melihat bagaimana semuanya dilakukan.”



