Dolar Tertekan Enam Pekan, Yen Terombang-ambing: Tarik Ulur Kesepakatan Iran dan Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar global bergerak hati-hati di tengah spekulasi kesepakatan AS-Iran yang berpotensi mengubah kendali Selat Hormuz, sementara dolar AS terperosok ke level terendah enam pekan.
- Intervensi Jepang hanya memberi efek sementara bagi yen; mayoritas pelaku pasar menilai Bank of Japan harus menaikkan suku bunga untuk menopang mata uang secara berkelanjutan.
- Laporan nonfarm payrolls AS Jumat ini menjadi penentu arah kebijakan Federal Reserve, dengan ekspektasi penambahan 80.000 lapangan kerja dan tingkat pengangguran stabil di 4,2 persen.

Pasar valuta asing global memasuki mode waspada pada Kamis (6/8) saat yen Jepang kesulitan mempertahankan penguatan hasil intervensi, sementara dolar AS terpaku di dekat level terendah enam pekan. Ketidakpastian seputar usulan kesepakatan AS-Iran yang melibatkan Oman dan antisipasi data tenaga kerja Amerika Serikat membuat para trader memilih bungkam.
Yen diperdagangkan stagnan di kisaran 157,71 per dolar pada perdagangan awal setelah melemah dua hari beruntun. Mata uang Negeri Sakura itu sempat menyentuh 155,20 per dolar pada Senin lalu berkat intervensi Tokyo dan koordinasi dengan Washington, tetapi keuntungan tersebut tergerus. Meski demikian, yen masih jauh dari titik terendah multi-dekade di sekitar 164 per dolar yang terjadi bulan lalu.
Di sisi lain, euro nyaris tak bergerak di level 1,1557 dolar, sterling flat di 1,3469 dolar, sementara dolar Selandia Baru dan Australia masing-masing bertahan di 0,5885 dan 0,7056 dolar AS. Indeks dolar yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama juga nyaris stagnan di 99,65, gagal menemukan arah jelas setelah jatuh ke posisi terendah enam pekan.
Ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. Reuters melaporkan adanya usulan kesepakatan antara Iran dan Oman yang dapat memberikan Teheran kendali atas lalu lintas masuk melalui Selat Hormuz, jalur energi paling vital dunia. Pemerintah AS belum memberi komentar resmi, meskipun Presiden Donald Trump sempat menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut sudah di depan mata. Namun, para pejabat AS berulang kali menegaskan tidak akan pernah menyetujui Iran menguasai akses jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Sebagai respons, harga minyak mentah Brent turun 0,5 persen menjadi 79,08 dolar per barel, mendekati level saat AS dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada Juni lalu. "Pasar benar-benar dalam mode tunggu dan lihat," ujar Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, dalam sebuah podcast. "Kita belum melihat volatilitas pasar minyak yang selama ini menjadi pendorong utama pergerakan pasar," tambahnya, seraya menekankan bahwa pelaku pasar masih menunggu apakah kesepakatan itu benar-benar akan terwujud.
Di tengah ketidakpastian global, Bank of Japan (BOJ) menjadi sorotan. Risalah rapat yang dirilis Rabu menunjukkan para pengambil kebijakan membahas risiko harga yang meningkat dan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut, meskipun mereka baru saja menaikkan biaya pinjaman ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Juni. Ini menggarisbawahi perhatian yang semakin besar terhadap meluasnya tekanan harga, memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga berikutnya pada September.
Intervensi Jepang yang didukung Washington memang sempat mendorong yen menguat hingga 5 persen terhadap dolar, tetapi efeknya cepat memudar. Survei Reuters menunjukkan hampir 95 persen responden meyakini intervensi semata tidak akan mampu menahan pelemahan yen secara berkelanjutan. Mayoritas dari mereka menegaskan bahwa BOJ harus menaikkan suku bunga agar dampaknya bertahan lama.
Kini perhatian investor tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat. Data sektor jasa yang tetap kuat pada Juli, meski input cost naik dan penyerapan tenaga kerja melambat, memberikan sinyal beragam bagi Federal Reserve. Konsensus ekonom yang dihimpun Reuters memperkirakan penambahan 80.000 lapangan kerja pada Juli, naik dari 57.000 pada Juni, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,2 persen.
Gubernur Fed Lisa Cook, dalam pernyataan Rabu, mengisyaratkan keterbukaan untuk menaikkan suku bunga jangka pendek guna mengatasi inflasi yang dinilai "terlalu tinggi". Pernyataan ini menambah spekulasi bahwa The Fed mungkin belum selesai dengan siklus pengetatan moneternya.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Pelemahan dolar AS berpotensi meredakan tekanan pada rupiah, tetapi ketidakpastian global dan potensi kenaikan suku bunga The Fed bisa memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz mengingatkan kembali kerentanan Indonesia sebagai pengimpor minyak, di mana gejolak harga energi dapat mendorong inflasi domestik. Bank Indonesia pun dituntut jeli membaca arah kebijakan moneter global untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BOJ akan benar-benar menaikkan suku bunga lagi pada September, dan apakah data tenaga kerja AS akan mengubah perhitungan The Fed. Jika inflasi AS masih membandel, dolar bisa kembali perkasa dan menekan mata uang Asia, termasuk rupiah. Sebaliknya, jika kesepakatan Iran-Oman terwujud, harga minyak bisa turun dan meredakan tekanan global. Pasar masih menanti jawaban dari dua variabel kunci ini.



