Bain Capital Akuisisi Gong cha, Raksasa Boba Asal Taiwan: Sinyal Baru Bisnis F&B Global
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan ekuitas swasta asal AS, Bain Capital, resmi mengambil alih Gong cha dari TA Associates dan pemegang saham lain, menandai ekspansi besar di sektor makanan dan minuman.
- Nilai transaksi tidak diungkap, namun sumber Reuters menyebut potensi mencapai US$2 miliar; proses akuisisi ditargetkan rampung pada kuartal keempat 2026.
- Langkah ini memperkuat portofolio Bain Capital di industri F&B, yang sebelumnya mencakup Domino's Pizza Jepang dan Fogo de Chรฃo, sekaligus menandakan konsolidasi pasar bubble tea global.

Bain Capital, perusahaan investasi raksasa asal Amerika Serikat, mengumumkan akuisisi atas jaringan minuman bubble tea Gong cha dari TA Associates dan sejumlah pemegang saham lainnya. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa bisnis minuman kekinian semakin dilirik investor global, sekaligus mempertegas ambisi Bain Capital untuk memperluas portofolio di sektor makanan dan minuman (F&B).
Meski nilai transaksi tidak dipublikasikan, Reuters pada Mei lalu melaporkan bahwa potensi nilai kesepakatan ini bisa mencapai US$2 miliar. Jika terealisasi, akuisisi ini akan menjadi salah satu yang terbesar di industri bubble tea global. Proses penyelesaian transaksi ditargetkan rampung pada kuartal keempat tahun 2026, memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menyelesaikan regulasi dan integrasi bisnis.
Gong cha, yang berdiri di Taiwan, telah menjelma menjadi salah satu pemain utama di pasar minuman teh global. Dengan hampir 2.200 gerai yang tersebar di 33 negara, merek ini memiliki pijakan kuat di Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Produk andalannya mencakup milk tea, fruit tea, dan berbagai minuman dingin lainnya yang digemari konsumen muda. Kehadiran Gong cha di pasar Asia Timur dan Oseania menjadi daya tarik tersendiri bagi Bain Capital yang tengah gencar membangun portofolio F&B.
Bagi TA Associates, yang telah berinvestasi di Gong cha sejak 2019, penjualan ini merupakan bagian dari strategi untuk merealisasikan keuntungan setelah periode pertumbuhan yang solid. Di bawah kepemilikan TA Associates, Gong cha berhasil memperluas jangkauan globalnya dan memperkuat posisinya di tengah persaingan ketat dengan merek seperti Chatime dan KOI Thรฉ. Kini, giliran Bain Capital yang dipercaya membawa Gong cha ke babak baru.
Bain Capital sendiri bukan pendatang baru di industri F&B. Portofolio investasinya sudah mencakup Domino's Pizza Jepang, jaringan steakhouse asal Brasil Fogo de Chรฃo, dan operator waralaba restoran Sizzling Platter. Akuisisi Gong cha menunjukkan pola investasi yang konsisten: membidik merek dengan potensi pertumbuhan tinggi di pasar yang sedang berkembang. Dengan masuknya Bain Capital, Gong cha diprediksi akan semakin agresif dalam ekspansi, termasuk kemungkinan masuk ke pasar-pasar baru di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, kabar ini memiliki relevansi yang cukup besar. Pasar minuman bubble tea di dalam negeri tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan munculnya berbagai merek lokal seperti Mixue dan HokBen yang juga merambah segmen ini. Meski Gong cha belum memiliki kehadiran yang masif di Indonesia, akuisisi oleh Bain Capital bisa menjadi pintu masuk bagi ekspansi lebih agresif ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan modal finansial yang kuat dan pengalaman Bain Capital dalam mengelola merek global, bukan tidak mungkin Gong cha akan semakin gencar membuka gerai di kota-kota besar Indonesia, bersaing dengan pemain lokal yang sudah mapan.
Langkah Bain Capital ini juga menjadi cermin bagi investor lokal bahwa industri F&B, khususnya minuman kekinian, masih memiliki prospek cerah. Di tengah tren konsumsi yang terus berubah, merek yang mampu beradaptasi dengan selera lokal dan memiliki skala global akan menjadi incaran investor. Pertanyaannya, apakah akuisisi ini akan memicu gelombang konsolidasi serupa di pasar Asia, atau justru membuka peluang bagi merek lokal untuk diakuisisi pemain asing?



