AS dan Iran Mulai Perundingan Damai di Swiss: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Agenda Utama
Baca dalam 60 detik
- Delegasi AS dan Iran bertemu di Bürgenstock, Swiss, untuk merundingkan kesepakatan damai permanen yang mencakup program nuklir Iran dan status Selat Hormuz.
- Perundingan ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman sementara yang ditandatangani pekan lalu, dengan batas waktu 60 hari yang dapat diperpanjang.
- Ketegangan di Lebanon dan ancaman Iran menutup kembali Selat Hormuz membayangi jalannya dialog yang juga melibatkan mediator Qatar dan Pakistan.

Amerika Serikat dan Iran memulai babak baru diplomasi di resor Bürgenstock, Swiss, Minggu (21/6), dengan agenda utama merundingkan kesepakatan damai permanen yang diharapkan mampu menyelesaikan sengketa program nuklir Tehran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz secara berkelanjutan. Pertemuan tingkat tinggi ini melibatkan perwakilan dari AS, Iran, Qatar, dan Pakistan, seperti diumumkan oleh mediator Qatar melalui media sosial.
Wakil Presiden AS JD Vance tiba di Swiss sehari sebelumnya, menandai keterlibatan langsung Washington dalam proses yang masih panjang. Meskipun nota kesepahaman sementara telah ditandatangani pekan lalu oleh Presiden Donald Trump, para analis menilai perundingan ini baru awal dari negosiasi alot yang akan mencakup isu-isu sensitif, termasuk kemampuan nuklir Iran dan masa depan Selat Hormuz—jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Menurut laporan media Iran, putaran pertama dialog berlangsung satu hari, dimulai dengan pertemuan delegasi Iran bersama mediator Qatar dan Pakistan, kemudian dilanjutkan dengan sesi bersama perwakilan AS pada sore hari. Iran mengirimkan delegasi tinggi yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Salah satu isu yang membayangi perundingan adalah konflik di Lebanon. Iran menuntut gencatan senjata komprehensif di Lebanon dan penarikan pasukan Israel, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Tehran menuding Israel melanggar gencatan senjata dan mengancam akan menutup kembali Selat Hormuz—ancaman yang langsung memicu kekhawatiran pasar energi global. Meski demikian, data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas minyak tetap berlangsung, bahkan tiga supertanker India dilaporkan mencoba melintasi selat menuju Pulau Qeshm, kemungkinan melalui rute yang disetujui Tehran.
Israel, yang tidak menjadi pihak dalam kesepakatan sementara, terus melanjutkan operasi militer melawan Hizbullah di Lebanon selatan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan tidak ada pembatasan bagi tentara Israel untuk menetralisir ancaman, dan pasukan tetap berada di zona aman sepanjang Garis Kuning. Sikap ini menuai kritik dari Trump, yang khawatir tindakan Israel dapat mengganggu proses diplomasi. Vance pun mengingatkan bahwa Israel harus menghormati proses perdamaian yang menguntungkan semua pihak.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara pengimpor minyak, stabilitas Selat Hormuz sangat memengaruhi harga energi domestik. Jika Iran benar-benar memberlakukan izin dan asuransi wajib bagi kapal yang melintas—seperti yang telah diperingatkan—biaya pengiriman minyak bisa melonjak, berpotensi menekan anggaran subsidi energi. Selain itu, normalisasi hubungan AS-Iran dapat membuka peluang investasi dan perdagangan baru di kawasan Timur Tengah yang selama ini terhambat sanksi.
Vance menyatakan target perundingan adalah membangun struktur negosiasi yang solid, melanjutkan diskusi teknis sebelumnya yang melibatkan utusan khusus Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff. Sementara itu, Trump memberikan tenggat waktu 60 hari, namun membuka peluang perpanjangan. "Jika tidak, kami akan melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi mereka, tapi saya pikir tidak akan sampai ke situ," ujar Trump, memberikan tekanan halus namun jelas.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah kedua belah pihak mencapai kesepakatan permanen di tengah pusaran konflik regional dan kepentingan domestik yang saling bertolak belakang? Ataukah perundingan ini hanya akan menjadi babak baru dari kebuntuan yang berkepanjangan?



