Serangan Rusia ke Kyiv Tewaskan 17 Orang, Zelensky Kembali Desak Pasokan Patriot
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal Rusia ke Kyiv dan sekitarnya menewaskan sedikitnya 17 orang serta melukai puluhan lainnya, menurut otoritas setempat.
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali menekankan urgensi pengiriman sistem pertahanan udara Patriot buatan AS untuk melindungi warga sipil dari agresi yang kian intensif.
- Insiden ini menyoroti kebutuhan mendesak Ukraina akan dukungan militer sekutu, sekaligus memicu pertanyaan tentang kesiapan Eropa menghadapi eskalasi konflik yang berdampak pada keamanan global.

Setidaknya 17 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka setelah rentetan rudal Rusia menghantam Kyiv dan wilayah sekitarnya pada Selasa malam hingga Rabu dini hari. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky langsung bereaksi, kembali mendesak sekutu Barat untuk segera mengirimkan sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat sebagai tameng bagi warga sipil.
Menurut laporan saksi mata, ledakan terdengar di ibu kota Ukraina setelah tengah malam, menyusul peringatan angkatan udara tentang masuknya rudal balistik. Asap tebal membubung di langit Kyiv saat matahari terbit, dan bau terbakar masih tercium beberapa jam kemudian. Otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 40 orang mengalami luka-luka, sementara tim penyelamat masih melakukan evakuasi di sejumlah lokasi terdampak.
Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam kampanye militer Rusia yang kian agresif menargetkan infrastruktur sipil. Sejak awal invasi, Moskow telah berulang kali melancarkan serangan rudal ke kota-kota besar Ukraina, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang meluas. Namun, intensitas serangan dalam beberapa pekan terakhir meningkat tajam, memicu kekhawatiran akan babak baru konflik yang lebih berdarah.
Zelensky, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa setiap sistem Patriot yang dikirim ke Ukraina akan digunakan untuk melindungi warga sipil, bukan untuk ofensif. Ia juga menyoroti bahwa keterlambatan pasokan senjata dari sekutu hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina. Seruan ini datang di tengah tekanan politik di Washington dan negara-negara Eropa untuk menyeimbangkan dukungan militer dengan kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara yang aktif dalam misi perdamaian PBB dan memiliki hubungan dagang dengan kedua negara, dinamika perang ini berdampak pada stabilitas harga pangan dan energi global. Indonesia juga berkepentingan untuk melihat penyelesaian damai, mengingat posisinya yang konsisten menyerukan dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Para analis militer memperkirakan bahwa Rusia akan terus meningkatkan tekanan pada Ukraina, terutama menjelang musim dingin, ketika kebutuhan energi dan infrastruktur menjadi lebih rentan. Sementara itu, Ukraina bergantung pada pasokan sistem pertahanan udara modern untuk menetralisir ancaman rudal. Namun, keputusan untuk mengirimkan sistem Patriot tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada kalkulasi politik di negara-negara sekutu.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah serangan berdarah ini menjadi titik balik bagi sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman bantuan militer, atau justru memicu kekhawatiran akan keterlibatan langsung yang lebih luas? Yang jelas, setiap korban jiwa di Kyiv adalah pengingat bahwa perang ini masih jauh dari kata usai, dan dunia tidak boleh lengah terhadap konsekuensinya.



