Duolingo Rela Korbankan Pendapatan demi Kejar 100 Juta Pengguna Harian
Baca dalam 60 detik
- Proyeksi pendapatan kuartal III Duolingo di bawah ekspektasi analis, memicu penurunan saham lebih dari 10% dalam perdagangan lanjutan.
- Perusahaan sengaja menunda monetisasi untuk fokus pada pertumbuhan pengguna aktif harian, yang ditargetkan tetap tumbuh di atas 20% hingga akhir tahun.
- Langkah ini dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk mencapai 100 juta DAU, dengan efisiensi biaya AI menjadi penopang margin.

Duolingo, platform pembelajaran bahasa terbesar di dunia, kembali menegaskan ambisinya untuk mengutamakan pertumbuhan pengguna di atas keuntungan jangka pendek. Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (5/8), perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal ketiga di bawah perkiraan analis, meski optimisme datang dari proyeksi pertumbuhan pengguna aktif harian yang tetap kuat. Saham Duolingo langsung terpukul, merosot lebih dari 10% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Sepanjang tahun ini, Duolingo secara sadar menempatkan pertumbuhan pengguna di atas monetisasi, dengan menguji berbagai cara untuk meningkatkan pendapatan berlangganan tanpa menambah gesekan bagi basis pengguna gratisnya yang sangat besar. CEO Luis von Ahn menyatakan bahwa perusahaan kini memperkirakan pertumbuhan daily active user (DAU) akan tetap berada di atas 20% hingga akhir tahun, didorong oleh perbaikan produk, retensi yang lebih kuat, dan upaya pemasaran yang lebih agresif.
Pada kuartal kedua, DAUโindikator kunci keterlibatan penggunaโtumbuh 23% menjadi 58,7 juta, melampaui estimasi Visible Alpha. Namun, jumlah pelanggan berbayar sedikit di bawah konsensus, menandakan bahwa pengguna baru belum sepenuhnya tergerak untuk membayar. CFO Gillian Munson menjelaskan, "Kami memberi tim kami ruang untuk fokus pada pertumbuhan DAU dan tidak terlalu terpaku pada monetisasi saat ini, karena kami yakin ini akan membawa kami ke jalur yang lebih sehat menuju 100 juta DAU."
Di tengah strategi tersebut, Duolingo juga diuntungkan oleh penurunan biaya kecerdasan buatan (AI). Munson mengungkapkan bahwa perusahaan semakin menggunakan model AI open-source untuk fitur-fitur yang tidak membutuhkan sistem paling canggih, sehingga membantu menekan biaya operasional. Hal ini tercermin dari margin kotor yang membaik pada kuartal kedua.
Pendapatan kuartal kedua naik 18% menjadi US$298,5 juta, melampaui rata-rata estimasi analis sebesar US$295,6 juta menurut data LSEG. Laba inti yang disesuaikan juga melampaui ekspektasi. Perusahaan mengaitkan kinerja ini dengan perbaikan produk, peluncuran fitur bertenaga AI seperti Video Call, serta disiplin dalam pemasaran berbasis kinerja. Selain itu, kampanye "Streak Revival" yang bersifat satu kali berhasil menarik jutaan pengguna tidak aktif kembali, meski manajemen menegaskan pertumbuhan berkelanjutan akan lebih ditentukan oleh perbaikan retensi dan hasil belajar, bukan promosi temporer.
Bagi pasar Indonesia, strategi Duolingo ini menarik untuk dicermati. Dengan penetrasi internet yang terus meningkat dan minat belajar bahasa asing yang tinggi, Duolingo memiliki basis pengguna yang signifikan di Indonesia. Namun, daya beli masyarakat yang beragam membuat konversi ke pengguna berbayar menjadi tantangan. Fokus Duolingo pada pertumbuhan pengguna, alih-alih monetisasi, bisa menjadi angin segar bagi pengguna di negara berkembang seperti Indonesia, yang kerap mengandalkan versi gratis. Di sisi lain, investor mungkin khawatir tentang kapan perusahaan akan mulai memetik hasil finansial dari basis pengguna yang terus membesar.
Keputusan Duolingo untuk menunda monetisasi demi mengejar pertumbuhan adalah taruhan berisiko. Di tengah tekanan untuk menunjukkan profitabilitas, perusahaan harus mampu membuktikan bahwa strategi ini akan berbuah manis dalam jangka panjang. Pertanyaannya, mampukah Duolingo mempertahankan pertumbuhan DAU di atas 20% tanpa mengorbankan pendapatan? Atau akankah investor kehilangan kesabaran menunggu janji 100 juta pengguna aktif harian terwujud?



