Sandisk Optimistis Pendapatan Kuartal I Tembus US$10,8 Miliar: AI Jadi Mesin Pertumbuhan
Baca dalam 60 detik
- Sandisk memproyeksikan pendapatan kuartal pertama antara US$10,30 miliar dan US$10,80 miliar, melampaui ekspektasi analis.
- Laba per saham disesuaikan diperkirakan mencapai US$44โ46, didorong permintaan chip memori untuk pusat data AI.
- Lonjakan pendapatan pusat data yang dua kali lipat menjadi US$2,98 miliar menegaskan posisi Sandisk pasca-pemisahan dari Western Digital.

Sandisk, produsen chip memori asal Milpitas, California, memproyeksikan pendapatan kuartal pertama yang melampaui perkiraan pasar, seiring melonjaknya permintaan chip untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Dalam laporan yang dirilis Rabu (5/8), perusahaan menargetkan pendapatan kuartal pertama antara US$10,30 miliar hingga US$10,80 miliar, dengan titik tengah di atas konsensus analis yang dihimpun LSEG sebesar US$10,47 miliar.
Laba per saham disesuaikan diperkirakan berada di kisaran US$44 hingga US$46, lebih tinggi dari estimasi US$43,12. Optimisme ini tidak lepas dari pertumbuhan pesat AI generatif yang mendorong kebutuhan enterprise solid-state drive (SSD) dan chip flash memory, karena pusat data membutuhkan kapasitas penyimpanan dan komputasi yang semakin besar.
Kinerja Sandisk pada kuartal keempat tahun lalu menjadi bukti nyata. Pendapatan dari segmen pusat data melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai US$2,98 miliar. Secara keseluruhan, pendapatan kuartal keempat tercatat US$8,97 miliar, mengungguli perkiraan US$8,39 miliar, sementara laba disesuaikan mencapai US$39,25 per saham, jauh di atas proyeksi US$34,45.
Sejak resmi berpisah dari Western Digital pada awal 2025, Sandisk menunjukkan akselerasi bisnis yang signifikan. Saham perusahaan bahkan sempat naik lebih dari lima kali lipat sepanjang tahun ini, sejalan dengan rally di sektor memori dan penyimpanan yang dipicu kenaikan harga chip dan optimisme terhadap permintaan AI. Meski demikian, pada perdagangan setelah jam bursa, saham Sandisk terkoreksi lebih dari 3%, mencerminkan aksi ambil untung setelah kenaikan yang tajam.
Di luar angka pendapatan, Sandisk juga mengumumkan perluasan program pembelian kembali saham senilai US$14 miliar, sehingga total otorisasi buyback yang tersisa mencapai US$15,5 miliar. Langkah ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Selain itu, sejak April lalu, Sandisk telah menandatangani lima perjanjian tambahan di bawah model bisnis barunya, termasuk tiga dengan pelanggan baru dan dua perluasan kontrak dengan mitra existing.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, meningkatnya produksi dan permintaan chip memori global berpotensi menekan harga komponen elektronik di dalam negeri, termasuk untuk perangkat konsumen seperti ponsel dan laptop. Di sisi lain, Indonesia yang tengah gencar membangun ekosistem digital dan pusat data nasional bisa menjadi pasar potensial bagi produk-produk Sandisk, terutama dengan hadirnya berbagai inisiatif pemerintahan dalam transformasi digital.
Namun, ketergantungan Indonesia pada impor chip masih menjadi tantangan. Fluktuasi harga global dan dinamika rantai pasok semikonduktor dapat mempengaruhi biaya produksi industri teknologi lokal. Para pelaku industri di Tanah Air perlu mencermati tren ini untuk mengantisipasi gejolak harga dan merancang strategi pengadaan yang lebih efisien.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah momentum pertumbuhan Sandisk dapat bertahan di tengah siklus industri semikonduktor yang kerap bergejolak. Dengan ekspansi kapasitas dan model bisnis baru yang agresif, Sandisk tampaknya siap memanfaatkan era AI. Namun, ketergantungan yang tinggi pada segmen pusat data juga berarti perusahaan harus jeli membaca tanda-tanda perlambatan investasi di sektor tersebut. Akankah Sandisk mampu menjaga pertumbuhan berkelanjutan, atau justru menjadi korban dari ekspektasi yang terlalu tinggi?



