1000 Laga Piala Dunia: Jepang Ukir Sejarah, Tunisia Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan Jepang vs Tunisia di Monterrey menjadi laga ke-1000 sepanjang sejarah Piala Dunia, dimenangkan Jepang 4-0.
- Kemenangan ini merupakan yang terbesar bagi negara Asia (AFC) di Piala Dunia, sekaligus mengeliminasi Tunisia.
- Perjalanan 1000 laga ini diwarnai momen bersejarah, mulai dari gol pertama hingga final yang jatuh pada edisi ke-100 dan ke-200.

Pertandingan Jepang melawan Tunisia di Monterrey, Sabtu (20/6), tidak sekadar laga penyisihan Gruf F Piala Dunia 2026. Laga itu mencatatkan diri sebagai pertandingan ke-1000 dalam sejarah turnamen sepak bola terbesar di dunia, sekaligus mengukuhkan dominasi Jepang yang menang telak 4-0.
Jalannya pertandingan menjadi saksi bagaimana Jepang tampil efisien. Keito Nakamura menjadi arsitek serangan dengan menusuk ke kotak penalti sebelum mengirim umpan matang kepada Daichi Kamada yang mencetak gol tercepat Jepang di Piala Dunia. Ayase Ueda kemudian menggandakan keunggulan, lalu berbalik menjadi pengumpan untuk gol Junya Ito. Ueda menutup pesta dengan gol keduanya di menit akhir. Kemenangan ini menjadi yang terbesar bagi negara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dalam sejarah Piala Dunia, sekaligus memastikan Tunisia tersingkir setelah hanya dua laga.
FIFA mencatat, sejak laga perdana pada 13 Juli 1930 antara Amerika Serikat melawan Belgia dan Prancis melawan Meksiko yang berlangsung bersamaan, turnamen ini telah melalui berbagai tonggak sejarah. Gol pertama dicetak Lucien Laurent untuk Prancis pada menit ke-19, meski akhirnya Les Bleus tersisih di fase grup. Amerika Serikat, yang mengalahkan Belgia 3-0, justru melaju hingga semifinalโprestasi terbaik mereka hingga kini.
Laga ke-100 dan ke-200 justru menjadi milik final. Pada 1966, Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 di Wembley, dengan Geoff Hurst mencetak hat-trick pertama di final. Rekor itu bertahan hingga Kylian Mbappe menyamainya di final 2022. Sementara laga ke-300 dan ke-400 terjadi pada 1978 dan 1986, masing-masing melibatkan Belanda dan Argentina yang akhirnya menjadi juara. Menariknya, laga ke-600 pada 2002 menjadi satu-satunya tonggak tanpa gol, saat Prancis bermain imbang 0-0 dengan Uruguay sebelum tersingkir di fase grup.
Bagi Indonesia, perjalanan 1000 laga Piala Dunia ini menjadi pengingat betapa jauhnya jarak antara sepak bola Asia dan Eropa/Amerika Selatan. Meski Jepang dan Korea Selatan pernah menjadi tuan rumah bersama pada 2002, belum ada wakil Asia yang mampu menembus semifinal. Kemenangan telak Jepang atas Tunisia setidaknya menunjukkan bahwa sepak bola Asia mulai mampu bersaing, meski masih perlu konsistensi lebih. Pelatih timnas Jepang, Hajime Moriyasu, menilai kemenangan ini sebagai bukti perkembangan taktik dan fisik pemain Asia.
Ke depan, dengan format 48 tim mulai 2026, peluang negara seperti Indonesia untuk tampil di Piala Dunia semakin terbuka. Namun, torehan Jepang di laga bersejarah ini sekaligus menjadi standar baru yang harus dikejar. Akankah Indonesia suatu hari nanti mencatatkan namanya dalam deretan laga landmark Piala Dunia?



