Pramono Anung Resmikan Halte Setiabudi Integritas, Simbol Baru Antikorupsi di Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama KPK meresmikan Halte Setiabudi Integritas sebagai bagian dari revitalisasi kawasan Rasuna Said.
- Penamaan halte ini merupakan upaya simbolis untuk menanamkan nilai integritas di ruang publik, sekaligus menjadi landmark baru Jakarta.
- Langkah ini dinilai sebagai kolaborasi konkret antara pemerintah daerah dan lembaga antikorupsi dalam membangun budaya bersih.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi mengubah nama Halte Setiabudi di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, menjadi Halte Setiabudi Integritas. Peresmian yang dilakukan bersama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto pada Minggu (21/6/2026) ini menjadi bagian dari revitalisasi kawasan Rasuna Said yang ditargetkan menjadi ikon baru ibu kota.
Pramono menjelaskan bahwa perubahan nama halte tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan KPK. "Hari ini bersama Bapak Ketua KPK, kami baru saja meresmikan Halte Setiabudi Integritas sebagai nama baru tempat ini. Nantinya juga akan ada halte kecil bernama Halte Integritas 1," ujarnya di lokasi. Menurut Pramono, kawasan Rasuna Said kini jauh lebih tertata dan rapi, dengan penambahan elemen estetika seperti anggrek di ujung jalan, sehingga layak menjadi landmark baru Jakarta.
Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan bahwa penamaan halte ini berangkat dari persoalan integritas yang selama ini menjadi momok bangsa. Menurut dia, nilai integritas harus dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk ruang publik. "Ini menunjukkan adanya kolaborasi, komitmen, dan kerja sama yang luar biasa antara Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Pemprov DKI Jakarta," kata Setyo. Ia berharap halte ini dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjunjung tinggi integritas dalam setiap aspek kehidupan.
Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk pengamat tata kota yang menilai bahwa penamaan fasilitas publik dengan nilai-nilai antikorupsi dapat memperkuat budaya bersih di Indonesia. "Ini langkah simbolis yang penting, namun perlu diikuti dengan aksi nyata seperti transparansi pengelolaan ruang publik dan penegakan hukum yang konsisten," ujar seorang analis kebijakan publik dari Universitas Indonesia. Bagi warga Jakarta, kehadiran Halte Setiabudi Integritas diharapkan tidak hanya menjadi ikon baru, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dalam menjaga integritas di lingkungan sekitar.
Ke depan, Pemprov DKI Jakarta berencana untuk terus mengembangkan kawasan Rasuna Said sebagai pusat kegiatan publik yang modern dan berintegritas. Pertanyaannya, apakah langkah simbolis ini akan diikuti dengan kebijakan konkret yang mampu menekan praktik korupsi di tingkat daerah? Atau justru hanya menjadi seremonial belaka? Waktu yang akan menjawab sejauh mana komitmen ini dijalankan.



