Trilogi Sepak Bola Putri 2026: Kudus Jadi Pusat Pembinaan Atlet Muda
Baca dalam 60 detik
- Bakti Olahraga Djarum Foundation menggelar tiga turnamen berjenjang di Kudus mulai Juni hingga Agustus 2026, dari level dasar hingga internasional.
- Srikandi Merdeka Cup menjadi puncak acara dengan partisipasi enam negara tetangga, sekaligus ajang seleksi pemain timnas putri U-16.
- Program ini diharapkan menciptakan ekosistem pembinaan berkelanjutan yang mampu mendorong lahirnya pesepak bola putri profesional Indonesia.

Bakti Olahraga Djarum Foundation meluncurkan Women's Soccer Trilogy, rangkaian tiga turnamen sepak bola putri yang akan berlangsung di Kudus, Jawa Tengah, dari Juni hingga Agustus 2026. Inisiatif ini dirancang untuk membangun ekosistem pembinaan atlet putri secara berjenjang, mulai dari usia dini hingga level internasional.
Rangkaian dimulai dengan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars pada 23β28 Juni, disusul Hydroplus Soccer League (HPSL) All Stars pada 5β12 Juli, dan puncaknya Srikandi Merdeka Cup pada 14β23 Agustus. Srikandi Merdeka Cup akan diikuti tim dari enam negara: Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Arab Saudi, dan Yordania. Turnamen ini juga menjadi ajang pembentukan skuad U-16 yang akan berlaga di kualifikasi AFC Cup pada Oktober 2026.
Program Director MLSC dan HPSL, Teddy Tjahjono, menegaskan bahwa pengembangan sepak bola putri tidak bisa dilakukan secara instan. "Women's Soccer Trilogy bertujuan membangun platform ekosistem pembinaan yang terintegrasi. Pembinaan dimulai dari MLSC sebagai pengenalan, berlanjut ke HPSL, hingga akhirnya terpilih pemain untuk Srikandi Merdeka Cup," ujarnya saat kick-off di Alun-alun Simpang 7 Kudus, Minggu (21/6/2026).
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton, menyambut baik penyelenggaraan trilogi ini. Ia menilai selain memperkuat posisi Kudus sebagai destinasi sport tourism, kegiatan ini juga menggerakkan perekonomian lokal, terutama sektor UMKM. "Kami berharap Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota bulutangkis, tetapi juga pusat pengembangan sepak bola putri Indonesia," kata Bellinda.
Antusiasme terlihat dari para atlet muda. Queisha Sava Azzalfa, kiper berbakat asal Jepara yang telah meraih empat kali penghargaan Best Goalkeeper di MLSC, mengaku kompetisi berjenjang membantunya mengasah kemampuan. "Setiap tingkatan punya tantangan sendiri. Saya harus terus bekerja keras untuk menjadi pesepak bola profesional," ujarnya. Sabrina Dwi Ristiyana, siswi SDN Jambean 02 Pati, juga merasakan manfaat kompetisi bertahap. "Saya tidak sabar menonton Srikandi Merdeka Cup untuk belajar dari pemain level timnas," tambahnya.
MilkLife Soccer Challenge menyasar siswi kelompok usia 8, 10, dan 12 tahun di 12 kota. Ajang ini berfungsi sebagai identifikasi bakat awal. Pemain potensial kemudian mengikuti MilkLife Soccer Extra Training dan berkesempatan tampil di MLSC All-Stars. Selanjutnya, atlet diarahkan ke Sekolah Sepak Bola (SSB) dan berkompetisi di HPSL yang digelar di empat regional: Jakarta, Bandung, Kudus, dan Surabaya. Pemenang dan runner-up HPSL All-Stars akan masuk dalam talent pool yang dipantau tim scouting untuk memperkuat timnas di Srikandi Merdeka Cup.
Menurut Teddy, proses pembinaan ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir. "Muaranya adalah terbentuknya talent pool yang banyak untuk pilihan memperkuat timnas. Skuad U-16 yang akan bermain di kualifikasi AFC Cup pada 5 Oktober nanti akan lahir dari ajang ini," pungkasnya. Dengan adanya trilogi ini, harapan untuk melahirkan generasi emas sepak bola putri Indonesia semakin nyata.



