Polda Kepri Padukan Olahraga Tradisional dan Bakti Sosial di Hari Bhayangkara ke-80
Baca dalam 60 detik
- Polda Kepulauan Riau menggelar lomba dayung sampan dan ketinting yang diikuti 106 peserta di Batam, sebagai bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80.
- Acara ini tidak hanya menjadi ajang olahraga tradisional, tetapi juga sarana mempererat hubungan Polri dengan masyarakat pesisir dan melestarikan budaya maritim Melayu.
- Selain lomba, Polda Kepri menyalurkan 250 paket sembako dan layanan kesehatan gratis, menegaskan komitmen kepolisian dalam mendukung kesejahteraan nelayan.

Polda Kepulauan Riau menggelar lomba dayung sampan dan ketinting di Pelabuhan Beton Kampung Tua Tanjung Riau, Batam, Minggu (21/6/2026), sebagai puncak perayaan Hari Bhayangkara ke-80 yang tidak hanya menyuguhkan kompetisi, tetapi juga menjadi jembatan silaturahmi antara aparat dan komunitas pesisir.
Ketua pelaksana kegiatan, Kompol Efendri Ali, mengungkapkan bahwa tahun ini partisipasi peserta melonjak menjadi 106 orang, terdiri dari 18 peserta lomba ketinting, 34 tim dayung sampan putra, dan 10 tim dayung sampan putri. Angka ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang terus tumbuh terhadap olahraga tradisional berbasis budaya maritim. “Kegiatan ini adalah rangkaian Hari Bhayangkara sekaligus upaya mempererat silaturahmi antara Polri dan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Lomba dayung sampan dan ketinting bukan sekadar hiburan. Bagi masyarakat Melayu di Kepri, olahraga ini telah menjadi identitas turun-temurun yang merepresentasikan kedekatan mereka dengan laut. Ketua Nelayan Tanjung Riau mengapresiasi inisiatif Polda Kepri yang dinilai tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberikan dampak sosial langsung. “Kegiatan ini menjadi ajang olahraga, hiburan, dan pelestarian budaya maritim Melayu,” katanya.
Wakapolda Kepri Brigjen Pol. Dr. Anom Wibowo menegaskan bahwa kegiatan ini bukan agenda seremonial belaka. “Ini bentuk komitmen kami dalam menjaga dan melestarikan budaya masyarakat pesisir serta mempererat hubungan Polri dan masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sinergi antara kepolisian dan warga sangat penting di tengah perkembangan kawasan pesisir yang pesat, terutama untuk memastikan ruang hidup dan mata pencaharian nelayan tetap terjaga.
Di luar lomba, Polda Kepri juga menggelar bakti sosial berupa penyerahan 250 paket sembako dan pelayanan kesehatan gratis. Langkah ini menjadi bukti bahwa kepolisian tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial. Wakapolda mengimbau warga untuk memanfaatkan Layanan Kepolisian 110 yang aktif 24 jam secara gratis untuk pelaporan dan bantuan.
Bagi Indonesia, khususnya wilayah pesisir seperti Kepri, kegiatan semacam ini memiliki makna strategis. Di tengah modernisasi dan tekanan ekonomi, tradisi maritim kerap tergerus. Inisiatif Polda Kepri menjadi contoh bagaimana institusi negara dapat berperan sebagai katalisator pelestarian budaya sekaligus penggerak kesejahteraan. Pertanyaannya, akankah model ini diadopsi oleh daerah lain untuk memperkuat ikatan sosial dan menjaga warisan bahari Nusantara?



