Lamine Yamal: Puncak Performa Belum Tercapai, Saya Bisa Jauh Lebih Baik
Baca dalam 60 detik
- Lamine Yamal, bintang muda Spanyol berusia 18 tahun, mengaku masih memiliki banyak ruang untuk berkembang dan yakin performa terbaiknya belum terlihat.
- Ia mengkritik sistem pembinaan usia dini yang terlalu kaku, yang menurutnya menghambat kreativitas pemain muda, berbeda dengan masa kecilnya yang bermain sepak bola jalanan.
- Yamal juga menyadari harga dari ketenaran sejak usia 13 tahun, yang membatasi aktivitas normal seperti berbelanja atau pergi ke bioskop karena selalu dikenali.

Lamine Yamal, penyerang sayap tim nasional Spanyol yang masih berusia 18 tahun, menegaskan bahwa puncak kariernya belum tercapai. Dalam wawancara dengan harian El Pais, pemain Barcelona itu menyatakan dirinya melihat potensi yang jauh lebih besar dari yang diperlihatkan selama ini. "Saya tahu jalan di depan masih panjang dan masih banyak hal yang harus saya tingkatkan," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah persiapan Spanyol menghadapi Arab Saudi pada laga kedua fase grup Piala Dunia 2026, setelah hasil imbang 0-0 yang mengecewakan melawan Cape Verde. Yamal, yang sempat bergelut dengan cedera sebelum turnamen, diperkirakan akan mendapatkan menit bermain lebih banyak setelah hanya menjadi pemain pengganti di pertandingan pembuka.
Yamal mengakui bahwa publik mungkin menilai permainannya saat ini sebagai batas kemampuannya. Namun, ia menolak anggapan tersebut. "Orang melihat saya seolah ini level saya dan selesai. Tapi saya bisa menggunakan kepercayaan diri itu untuk banyak hal. Saya bersikeras: perjalanan saya masih panjang, banyak yang harus diperbaiki. Dan masih sangat, sangat, sangat banyak sepak bola," tegasnya.
Dalam wawancara yang sama, Yamal juga menyoroti perbedaan pendekatan pembinaan pemain muda. Ia tumbuh dengan bermain sepak bola jalanan, yang menurutnya memberikan kebebasan berekspresi. Sebaliknya, ia melihat banyak pemain muda saat ini yang sejak usia empat tahun sudah dimasukkan ke klub dan diberi instruksi kaku. "Masalah yang saya lihat pada pemain yang muncul sekarang adalah mereka bergabung dengan tim sepak bola pada usia empat tahun, dan di tim, mereka diberi tahu: 'Oke, bek sayap harus mengontrol bola dan mengoper ke pemain sayap; pemain sayap harus mengontrol dan mengoper ke gelandang'," kritiknya.
Yamal juga mengakui bahwa ketenaran sejak usia 13 tahun membawa konsekuensi. Ia tidak bisa lagi melakukan hal-hal normal seperti berbelanja atau pergi ke bioskop karena selalu dikenali. "Menjadi terkenal sejak 13 tahun ada harganya," katanya, tanpa menyesali pilihan hidupnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pernyataan Yamal ini menjadi pengingat bahwa bakat muda sekaliber dia pun masih haus akan pembelajaran. Di tengah gempuran pemain-pemain muda Asia yang mulai bersinar di Eropa, seperti pemain Indonesia yang merumput di luar negeri, konsistensi dan pengembangan diri menjadi kunci. Yamal, yang sudah menjadi idola baru di Barcelona, justru memilih untuk rendah hati dan fokus pada proses, bukan sekadar hasil instan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Yamal membawa Spanyol bangkit dari hasil imbang kontra Cape Verde dan melaju jauh di Piala Dunia 2026? Ataukah cedera dan tekanan ekspektasi akan menghambat langkahnya? Satu hal yang pasti, tekadnya untuk terus belajar dan membuktikan diri menjadikannya salah satu pemain yang patut dinantikan perkembangannya.



